
PEKANBARU, GORIAU.COM - Provinsi Riau mendapat rapor merah dalam menjalankan program nasional keluarga berencana (KB). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Soedibyo Alimoesa mengatakan nilai merah yang pertama dilihat dari indikator total fertility rate (TFR) atau angka rata-rata kelahiran anak dari seorang perempuan selama masa reproduksinya. Angka TFR di Riau mencapai 2,6 hingga 2,9.
"Artinya, satu orang perempuan di Riau rata-rata memiliki tiga anak. Padahal dalam program KB dua anak cukup," katanya, seusai mengikuti pembukaan Rapat Kerja Daerah Kependudukan dan KB Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis (14/2/2013).
Indikator merah lainnya, ujar Soedibyo, yakni laju pertumbuhan penduduk Riau yang mencapai 3,59% per tahun. Angka itu jauh melebihi target pertumbuhan penduduk nasional yakni 1,4%. Kemudian tingkat usia kesuburan dan produktif tapi tidak menggunakan alat kontrasepsi mencapai 61%. "Sebenarnya apa yang dialami Riau juga dialami provinsi lain di Indonesia. Bahkan secara nasional program kependudukan dan KB juga mendapat rapor merah," ungkapnya.
Sementara itu, Asisten III Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau Emrizal Pakis dalam sambutan saat membuka rakerda mengakui laju pertumbuhan penduduk Riau sangat tinggi. Hal itu terjadi karena sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang baik banyak masyarakat pendatang.
"Dalam setahun saja diperkirakan ada Rp30 triliun perputaran uang negara dari APBD maupun APBN yang beredar Riau. Itu belum termasuk dana investasi swasta. Jadi Riau ini bagaikan gula yang mengundang semut," ujarnya.
Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, lanjut Emrizal, juga terjadi karena imbas kebijakan nasional yang bertumpu pada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan program KB tidak menjadi prioritas dan gaungnya tidak sekencang era Orde Baru. "Secara organisasi, BKKBN hanya berada di tingkat provinsi. Itupun jabatannya hanya setingkat kepala bagian," ungkapnya. (mtc)