PEKANBARU - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengancam kualitas udara di Riau kembali mendapat perlawanan sengit. Ratusan personel regu pemadam kebakaran dari PTPN IV Regional III diterjunkan langsung ke lapangan, berjibaku menaklukkan titik api di kawasan gambut dan perbukitan tiga kabupaten demi mencegah meluasnya kabut asap.

Dukungan masif ini menyasar wilayah Kabupaten Siak, Kampar, dan Indragiri Hulu. Di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, tim gabungan berjuang memadamkan api yang melahap sekitar 40 hektare kawasan gambut. Medan yang berat tak menyurutkan langkah petugas. Mereka bahkan harus menyeberangi sungai menggunakan kapal kayu bermesin agar bisa menembus titik pusat kebakaran pada Sabtu akhir pekan lalu.

Pemandangan tak kalah menegangkan terjadi di Sungai Golang, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu. Petugas dari unsur TNI, Polri, BPBD, dan tim perusahaan dihadapkan pada areal perbukitan terjal seluas empat hektare yang terbakar. Sementara itu, pasukan pemadam juga dikerahkan ke Kabupaten Kampar, tepatnya di Desa Hang Tuah, Kecamatan Perhentian Raja, setelah sebelumnya menaklukkan kobaran api di Desa Sungai Putih, Kecamatan Tapung.

Siagakan Ratusan Personel dan Teknologi Terkini

Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso memastikan bahwa pengerahan pasukan ini merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Langkah penanggulangan karhutla ini menjadi sangat penting mengingat kabut asap belakangan ini mulai mengancam kelancaran aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah yang ada di Pekanbaru.

"Karhutla membutuhkan penanganan bersama. Kami mengerahkan personel dan peralatan yang kami miliki untuk membantu Satgas di lapangan, terutama di lokasi yang membutuhkan dukungan tambahan," tegasnya di Pekanbaru, Senin (7/9/2026).

Saat ini, perusahaan secara konsisten menyiagakan 660 personel yang diperkuat dengan mesin pompa air berkekuatan 25 horse power, selang nozzle, hingga armada patroli dan pesawat tanpa awak (drone). Pemantauan areal bahkan diperluas hingga lima kilometer kawasan penyangga melalui aplikasi cerdas bernama Arfina.

Seluruh potensi titik api yang terdeteksi secara langsung melalui sistem digital tersebut menjadi rujukan utama bagi petugas di darat untuk melakukan penyisiran. Upaya pencegahan ekstra ketat ini mencatatkan rekor tersendiri, dimana areal operasional perusahaan perkebunan tersebut berhasil dipertahankan terbebas dari ancaman karhutla sejak berdiri pada tahun 1996 silam. ***