
PEKANBARU – Sekretaris PSPS Pekanbaru, M. Teza Taufik, menyatakan manajemen klub menerima keputusan Komite Disiplin (Komdis) PSSI terkait sanksi yang dijatuhkan kepada PSPS Pekanbaru. Pernyataan tersebut disampaikan Teza kepada goriau melalui pesan WhatsApp pada Kamis (12/2/2026) sore.
“Iya, kita menerima keputusan Komite Disiplin PSSI akibat beberapa poin yang terjadi di laga PSPS Pekanbaru versus Adhyaksa FC Banten beberapa waktu lalu,” ujar Teza.
Meski menerima putusan tersebut, Teza menyebut sanksi ini menjadi catatan serius bagi manajemen, khususnya panitia pelaksana pertandingan. Menurut dia, pengawasan terhadap penonton akan diperketat ke depan, mengingat salah satu pelanggaran yang dicatat Komdis adalah pelemparan botol air minum ke dalam lapangan dari arah tribun penonton.
“Ini juga akan menjadi catatan manajemen kepada panpel untuk lebih ketat mengawasi penonton. Karena salah satu poinnya adalah adanya lemparan air mineral ke dalam lapangan dari arah tribun,” kata Teza.
Manajemen PSPS, kata dia, juga terus mengimbau para suporter untuk tetap menjaga ketertiban dan keamanan stadion, terlepas dari hasil maupun jalannya pertandingan. Ia menegaskan klub tidak ingin kekecewaan penonton berujung pada tindakan yang berpotensi memicu kerusuhan.
“Kita tidak bosan menghimbau kepada penonton, sekecewa apa pun terhadap pertandingan. Namun keamanan dan kenyamanan di stadion adalah hal yang harus kita jaga. Kita tentu tidak mau ada tindakan-tindakan yang bisa mengarah kepada kerusuhan. Tragedi Kanjuruhan harus menjadi pembelajaran bagi kita semua,” ujarnya.
Berdasarkan putusan Komdis PSSI, PSPS Pekanbaru juga dipastikan harus menjalani laga kandang tanpa penonton. Teza menyebut pertandingan home melawan Garudayaksa yang dijadwalkan pada 28 Februari 2026 akan digelar tanpa kehadiran suporter.
Namun demikian, manajemen PSPS mempertanyakan salah satu poin pelanggaran yang dinilai bersifat ambigu, yakni tuduhan tindakan meludahi tim Adhyaksa FC Banten. Menurut Teza, Komdis tidak menjelaskan secara rinci siapa pelaku dan siapa korban dari tindakan tersebut, serta tidak menyertakan bukti pendukung.
“Selain itu juga ada putusan soal tindakan tidak terpuji meludahi tim Adhyaksa. Di sini yang kita pertanyakan tidak disebutkan siapa dan kepada siapa tindakan ini dilakukan. Juga tidak ada disampaikan kepada kami bukti berupa foto atau video. Ini sangat ambigu sekali dalam Komdis menjatuhkan sanksi,” kata Teza.
Ia bahkan menyebut adanya insiden sebaliknya yang dialami pihak PSPS, namun tidak terekam dan tidak menjadi perhatian Komdis.
“Malah ada pemain kita yang diludahi oleh ofisial Adhyaksa dalam momen sedikit keributan saat mempertanyakan keputusan wasit. Namun kejadian itu tidak terekam oleh media,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi kepada PSPS Pekanbaru berupa larangan menggelar satu pertandingan kandang dengan penonton serta total denda Rp30 juta akibat serangkaian insiden suporter pada laga melawan Adhyaksa FC Banten di Stadion Kaharuddin Nasution, 23 Januari 2026. ***