
BERPENGALAMAN dan cakap dalam memimpin, mendorong Firdaus ST MT untuk ikut membangun Riau. Niatnya, jika terpilih nantinya, Riau akan berkembang dan mampu menjadi poros utama perekonomian Sumatera. Bersanding dengan Rusli Effendi di Pilgubri 2018, pria kelahiran Muaro Uway Kabupaten Kampar ini pun optimis dapat meraup simpati masyarakat.
Firdaus, anak dari pasangan Muhammad Datuk Bagindo Pado dan Hj Rufiah ini sudah melewati 'asam garam' kehidupan. Firdaus kecil yang dibesarkan dengan didikan kedua orangtuanya tumbuh berkembang menjadi seorang visioner dan dipercaya memimpin Kota Pekanbaru selama dua periode sebagai Walikota. Kini, pria kelahiran tahun 1960 tersebut mencoba mengadu kesempatan politikan dengan maju menjadi calon Gubernur Riau.
Ia menyebutnya dengan panggilan negeri, demikian motivasi yang melecut Firdaus hingga mencalonkan diri bersama tandemnya Rusli Effendi. Kepada GoRiau.com, pria yang mengawali karirnya sebagai honorer di Dinas PU pada 1981 tersebut bercerita, bahwa niatnya itu bukan lantaran ambisi semata, melainkan demi membangun Riau menjadi Madani, berkemajuan serta berkeadilan.
''Pertama ini panggilan negeri, yakni bumi melayu. Bukan karena ambisi pribadi, tegas saya katakan. Panggilan negeri ini, karena banyaknya yang meminta ke saya agar bersedia memperjuangkan aspirasi mereka, berharap pemimpin ke depan mampu untuk membangun Riau lebih baik. Pertimbangan tadi tidak hanya dari satu orang, namun banyak, mulai dari lintas agama, suku, lintas strata dan lainnya," ujar Firdaus.
Firdaus MT memimpin upacara 17 Agustus.
Itulah alasan mendasar yang menggerakkan seorang Firdaus untuk 'bertarung' melawan putra terbaik Riau lainnya pada Pilkada 2018 ini. Cukup lama juga dirinya berpikir hingga akhirnya memutuskan mencalonkan diri. Disamping hal tersebut, ada dua faktor lainnya yang turut jadi pertimbangan Firdaus, mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga kurang optimalnya pemanfaatan hasil bumi yang dimiliki negeri Lancang Kuning.
"Faktor kedua adalah masukan dari kementerian lembaga yang ada di pusat, di mana saya sempat berdiskusi, bagaimana menghadapi tantangan resesi (kemerosotan, red) penduduk dunia, bagaimana pemerintah pusat dan daerah bersinergi, sehingga dapat melalui resesi ini dengan tidak membuat kesengsaraan di masyarakat, sekalipun kita sudah merasakan turunnya daya beli saat ini," lanjutnya.
Bicara soal Sumber Daya Alam (SDA) yang turut menjadi alasan Firdaus maju, di mana Riau termasuk satu dari sekian penghasil devisa terbesar untuk Indonesia. Namun kenyataannya, pertumbuhan ekonomi negeri ini justru tidak seimbang, bahkan bisa dikatakan rendah. Ini pun turut menuai keprihatinan pemerintah pusat, singgung Firdaus.
"Ini faktor ketiga yang memotivasi saya. Bahwa pertumbuhan ekonomi Riau yang rendah. Saat ini, dalam dua tahun terakhir hanya 2,25 persen dan itu di bawah rata-rata nasional. Sementara Riau penyumbang devisa bagi Indonesia, Migas 50 persen dari Riau, sawit yang terluas di Riau, karet dan kelapa juga," ungkapnya.
Firdaus MT bersama Wakil Walikota Ayat Cahyadi pada hari Pramuka.
''Dengan pertimbangan itu tadi dan aspirasi-aspirasi yang masuk ke saya, saya berfikir lama dan konsultasi, istikharah minta petunjuk kepada Allah SWT dan bisa menjawab aspirasi tersebut, untuk siap memperjuangkan amanah dan ikut dalam Pilkada. Kami akan membangun Riau, menjadi madani, berkemajuan serta berkeadilan," yakin dia.
Tak main-main, Firdaus dan Rusli Effendi pun telah menyiapkan sejumlah program untuk mensejahterakan masyarakat Riau, jika seandainya terpilih nanti. Sasaran pertama, yakni pembangunan sumber daya manusia (SDM). Ini strategi tepat menurutnya, disamping Riau kaya dengan sumber daya alam (SDA). Ia pun punya alasan kuat untuk hal yang satu ini.
"Indonesia dengan kekayaan alam melimpah, maka strategi pembangunan pemerintah selama ini kekuatannya dari SDA, berbeda dengan negara lain, seperti Singapura, Jepang dan Korsel, mereka tidak punya SDA dan membangun kekuatan bangsanya dengan SDM yang berkualitas dan hasilnya jadi negara maju dan ekonominya sejahtera," terang alumni Universitas Islam Riau (UIR) ini.
Firdaus MT diarak keliling kota setelah mendapatkan dukungan PPP dan Partai Demokrat.
Inilah yang bakal dibangunnya kelak jika terpilih. Dengan mengedepankan SDM yang berkualitas, disokong pula oleh SDA yang melimpah, tentunya akan mensejahterakan masyarakat Riau. "Kita harus membangun ini. Mengedepankan SDM dengan dukungan SDA yang melimpah. Peluang itu didapat bila merubah strategi pembangunan tersebut," ujarnya.
SDM berkualitas yang dinamainya dengan masyarakat generasi Madani merupakan modal untuk mendongkrak Riau lebih maju. Firdaus sadar betul, bahwa hasil alam berupa Migas, sawit hingga karet tidak akan bisa diandalkan untuk jangka waktu 10 sampai 20 tahun ke depan. "Maka kita harus menggali potensi yang ada, kalau pun SDA masih ada, kita tidak menjual mentah seperti sekarang, kita harus mampu membangun industri yang mengolahnya menjadi turunan lain, valuenya ada di industri hilir, bukan Hulu seperti sekarang," pikirnya.
Merangsek ke sektor lain yang tak kalah menjanjikan, Firdaus juga melirik bidang pariwisata, di mana kecenderungannya terus meningkat. Ditambah pula letak Provinsi Riau yang strategis. Kalaulah ini dimaksimalkan, tentunya dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
"Besarnya potensi pariwisata Riau akan menjadi andalan ke depan, tentunya dengan perencanaan yang baik. Mulai dari industri yang akan dibangun hingga sektor parisiwata harus direncanakan, disusun rencana induknya, lalu secara bertahap diselesaikan pembangunannya," ungkap pria yang semasa mudanya sempat menjadi guru ngaji dan ustad ini.
Firdaus MT
Prinsipnya, 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau harus sama-sama maju, sehingga daya saing daerah meningkat, berkemajuan dan berkeadilan sesuai target yang dikonsep Firdaus. Dengan begitu, maju dalam segala bidang, baik SDM dan wilayah, serta adil dalam pemerataan pembangunan, baik wilayah, suku agama dan sebagainya. "Ini yang disebut Riau Madani berkemajuan berkeadilan," pertegasnya.
Menurut sudut pandangnya, masalah yang dihadapi para pemimpin di Riau ke depan, pertama soal keberanian. "Maka pemimpin Riau harus orang yang visioner, saya mendefinisikannya, punya visi dan cita-cita, mampu dan mau bekerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, disiplin, kreatif, inovatif dan berkomitmen menyelenggarakan pemerintah yang bersih, tata kelola pemerintahan yang baik, mampu melayani, pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat, cepat, tepat, murah dan lebih baik," papar dia.
Kata Firdaus, masalah mendasar di Riau yang membuatnya stagnan dalam lima tahun ini, pertama dikarenakan masalah tata ruang. Bukan tak beralasan, karena itu induk dalam perizinan membangun. "Maka itu harus segera, kalau memang masih ada tarik ulur, pemimpin mesti tegas untuk mengambil kebijakan," katanya.
Firdaus MT bersama warga.
Dengan begitu, tentu akan mendorong investasi masuk. Toh jika pun belum, tentunya pemimpin harus berani mengambil langkah. "Harus berani memverifikasi tata ruang kabupaten kota yang telah diajukan, karena regulasinya ada, membolehkan, tidak harus menunggu tata ruang itu jadi baru gubernur memverifikasi. Karena tata ruang itu induknya. Tanpa investasi kita tidak bisa membuka peluang kerja yang lebih banyak," terang dia.
"Secara keseluruhan, baik nasional maupun daerah, investasi pemerintah dalam membangun hanya 10 persen, 90 persen lagi adalah dunia usaha. Maka sebab itu investor akan masuk bila mana mampu memberikan pelayanan perizinan yang cepat, kemudian keamanan, didukung infrastruktur yang baik. Langkah awal kita bagaimana tata ruang diselesaikan," optimisnya.
Jika ini sudah mulus, rancangan pembangunan berikutnya dapat berjalan optimal, tentunya dengan konsep untuk generasi mendatang. Balik lagi, kunci lainnya juga bergantung dengan SDM yang berkualitas, terutama generasi muda (Milenial usia 15-34 tahun sekarang, red). "Karena mereka lah nanti yang akan bermain di panggung, sebab itu, generasi milenial harus disiapkan menjadi SDM berkualitas, mandiri dan tangguh," lanjut Firdaus.

Untuk membangun generasi yang berkualitas, tentunya tidak bisa dengan upaya pemerintah semata. Firdaus pun merujuk pada pesan lawas dari ibundanya, agar menjadi anak yang pintar dan taat beragama, yang dimulai dari hal terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, ada tiga wilayah yang berperan mewujudkan itu semua, disamping peran fungsi pemerintah.
"Saya selalu sampaikan, membangun generasi berkualitas, maka ada tiga wilayah yang berperan. Pertama rumah tangga, lalu sekolah dan kemudian lingkungan masyarakat. Siapa mereka, yaitu orangtua, guru dan tokoh masyarakat. Maka, setiap rencana pembangunan dan cita-cita akan berhasil, bila tiga elemen bisa bekerja bersinergi," pungkasnya.
Lalu pertanyaannya, dengan berbagai program, visi dan misi tersebut, bagaimana Firdaus menyikapinya jika nanti tidak terpilih menjadi Gubernur Riau? "Kekuasaan milik Allah, apa upaya manusia, yakni bekerja keras. Kalau Allah tidak ridho, maka tidak akan dapat. Sebab itu, kompetisi oleh para putra terbaik Riau, tentunya menghasilkan yang terbaik. Siapa yang dipilih harus didukung. Kalau bukan saya, siapa yang dipilih harus didukung dan kita bersinergi. Siapa pun pemimpin Riau, harus mampu menjadi Visioner," tutupnya. ***
Firdaus MT
Biodata:
DR. H. Firdaus S.T., M.T yang lahir di Bangkinang, 2 Mei 1960 adalah Walikota Pekanbaru yang mulai menjabat sejak tanggal 26 Januari 2012. Ia bersama Ayat Cahyadi memenangkan Pilkada secara langsung di Kota Pekanbaru pada tanggal 18 Mei 2011. Pada tanggal 24 Juni 2011 Mahkamah Konstitusi memerintahkan pemilihan umum ulang di kota Pekanbaru. Pada tanggal 13 Januari 2011, Mahkamah Konstitusi menetapkan Firdaus dan Ayat Cahyadi sebagai pemenang pemilihan Wali kota dan Wakil Walikota Pekanbaru. Saat ini, Firdaus sudah menjabat sebagai Walikota Pekanbaru untuk periode kedua. Firdaus merupakan anak dari pasangan Muhammad Datuk Bagindo Pado dengan Hj. Siti Rufi'a.
Pada tanggal 15 Agustus 2016, H. Firdaus, ST, MT resmi menyandang gelar Doktor (DR) setelah dikukuhkan dalam Sidang Promosi Doktor Ilmu Pemerintahan Program Pascasarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Balairung Rudini IPDN Bandung lulus Cum Laude dengan IPK 3,8. Kemudian dikukuhkan pada Sidang Terbuka Senat Institut Pemerintahan Dalam Negeri Wisuda Lulusan Program Diploma IV, dan Program Sarjana (S1) Program Profesi Kepamongprajaan Program Magister (S2)dan Program Doktor (S3) Institut Pemerintahan Dalam Negeri Republik Indonesia di kampus IPDN Jatinangor, Ahad, 7 Agustus 2016
Firdaus MT (kiri)
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama wargaFirdaus MT bersama wargaFirdaus MT bersama warga...
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.
Firdaus MT bersama warga.Firdaus MT bersama warga.