Keberadaan kempang sangat dibutuhkan masyarakat Pulau Tebing Tinggi dan Pulau Merbau. Bagaimana tidak, untuk menuju dua pulau itu masyarakat harus menggunakan kempang untuk menyeberangi kendaraan dan diri sendiri.
Penyeberangan tanpa peraturan desa itu dipungut biaya Rp8 ribu untuk satu motor (Rp10 ribu kalau berdua satu motor), untuk sekali trip ke Mekong ataupun ke Semukut.
Rata-rata masyarakat dua pulau itu harus menyiapkan uang kempang Rp20 ribu untuk sekali perjalanan.
Rp20 ribu itu tidak berlaku di waktu-waktu tertentu. Jika menyeberang pada malam hari, satu motor bisa mencapai Rp15 ribu satu kali jalan. Sebab, masyarakat yang menyediakan jasa penyeberangan menyeberangi kendaraan dan orang tidak menggunakan mesin, melainkan dengan dayung tangan.
Belum lagi memasuki bulan-bulan tertentu, dimana air laut meluap saat pasang. Air pasang yang biasanya terjadi di akhir tahun (mulai Oktober hingga Desember) menggenangi jalan yang menuju ke kempang atau ke bibir Selat Rengit.
Kalau sudah memasuki musim ini masyarakat harus menyediakan lagi uang penyeberangan yang tak sedikit. Pasalnya, selain membayar penyeberangan di Selat Rengit, masyarakat kembali harus membayar uang kempang yang disediakan masyarakat setempat di jalan yang tergenang air laut.
Meski kadang jaraknya hanya 50 - 100 meter, namun masyarakat terpaksa menggunakannya jika tidak menginginkan besi-besi motornya berkarat. (Air laut sangat cepat membuat besi-besi berkarat dan keropos).
Tentu air pasang ini menjadi berkah bagi penyedia kempang penyeberangan. Sebab, mereka bisa meraup rupiah ratusan ribu rupiah perhari.
Seperti yang diungkapkan Andi (25) warga Desa Mekong, salah seorang pekerja kempang dorong mengaku ini merupakan rezeki tahunan untuk dirinya dan beberapa orang temannya. Dengan adanya air pasang besar ini Ia dan temannya bisa mendapatkan Rp400 ribu dari hasil kempang dorong ini.
"Air ini akan semakin tinggi hingga pertengahan bulan Desember nanti dan akan semakin surut hingga tanggal 8 Januari nanti. Kempang dorong ini hanya saat pasang air laut saja," kata andi ketika ditanya di sela-sela kesibukannya menyeberangi pengendara dari banjir.
Meski menjadi berkah oleh penyedia kempang, tapi tidak bagi kebanyakan masyarakat yang hendak menyeberang. Bagi mereka ini sebagai musibah, sebab harus menyediakan minimal Rp40 ribu untuk sekali jalan.
"Tak ade kie-kie (karena dinilai terlalu mahal, red), meletakkan harga kempang, padahal bukan jauh," kata salah seorang warga Semukut yang mulai keberatan dengan harga penyeberangan itu.
Keluhan lain juga disampaikan salah seorang warga Centai Kecamatan yang enggan disebutkan namanya. Menurutnya, harga penyeberangan di Selat Rengit pun sangat mahal. Sebab, jarak antara pulau sangatlah dekat.
"Beda kalau pulau Tebing Tinggi (Selatpanjang, red) dengan Rangsang (Lemang dan Peranggas, red), jaraknya jauh, harganya malah murah jika dibandingkan dengan kempang di sini (Mekong-Semukut)," kata lelaku paruh baya ketika ditemui, Minggu (26/7/2014).
Tidak hanya itu, kekesalan pun ditasakan saat naik dari kempang (sebelah Mekong), jalan uang melintasi hutan mangroove itu sangat tidak bagus.
"Coba uang yang didapatkan dari penyeberangan itu disisihkan sedikit untuk perbaikan jalan. Ini mana pernah mereka terfikirkan ke sana. Kemana pergi uang jutaan rupiah itu kalau bukan ke saku pemilik kempang," ungkapnya dengan nada kesal.
Tapi, apapun yang terjadi di penyeberangan kempang Mekong-Semukut ini belumlah bisa dijadikan PAD, sebab memang belum ada Perdes yang mengatur itu.
Kempang yang dulu dianggap sebagai alternatif ini ternyata masih dipakai hingga beberapa tahun kedepan setelah Jembatan Selat Rengit (JSR) yang menghubung Pulau Tebing Tinggi dengan Pulau Merbau dipastikan tidak selesai dan kembali akan ditender pada tahun 2016 mendatang.
Saat ini masyarakat banyak berharap harga penyeberangan bisa lebih ditekan, karena mencari uang bagi masyarakat ekonomi ke bawah tidaklah mudah.
Semoga pemerintah bisa memberikan solusi.
(zal)