
PEKANBARU - Belakangan terungkap beberapa kasus yang ditenggarai mengeksploitasi anak di bawah umur, semisal memperkerjakan anak untuk meminta-minta, kekerasan seksual hingga keterlibatan dalam peredaran narkoba. Ini tidak hanya terjadi di ibukota, namun juga ada di Provinsi Riau.
Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pembina Komnas PPA, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto mengatakan, hal itu terjadi akibat tidak terkontrolnya pergaulan yang didapat anak di lingkungannya. Mensiasati hal tersebut, orangtua harus mengubah pola pendekatan terhadap putra-putri mereka.
"Kecenderungan orangtua adalah memposisikan anak di komunitas terbawah. Diberi komando, perintah dan intruksi. Disuruh ini itu atas karena masih anak-anak. Sebetulnya hal tersebut kurang tepat dilakukan. Bisa membuat mereka tertekan," jawab Kak Seto di Pekanbaru, Riau, Senin (28/3/2016) siang.
Harusnya, kata dia, anak diposisikan sebagai sahabat. Dengan suasana ini maka psikis mereka akan nyaman terhadap orangtua, termasuk menceritakan pengalaman-pengalaman mereka sepanjang hari. "Imbasnya komunikasi akan terjalin dengan baik," sambungnya kepada GoRiau.com.
Namun kebanyakan, hubungan antara anak dan orangtua banyak renggang karena buruknya komunikasi. Walhasil, anak-anak mencari pelarian di lingkungannya sebagai ekspresi perasaan mereka. Itulah yang kemudian menggiring anak di bawah umur terjerumus berbagai kasus kejahatan.
Kak Seto menguraikan, lemahnya pemberdayaan di keluarga juga turut jadi faktor penyebab, dimana zaman sekarang, orangtua kerap disibukkan oleh pekerjaan, sehingga kontrol terhadap buah hati jadi berkurang. Ini membuat anak terjerumus kejahatan bahkan jadi korban kekerasan seksual.
"Maka itu sekarang kita sedang menggesa program Satgas Perlindungan Anak di setiap RT dan RW. Ini jadi prioritas kita di 2016. Kita sudah bentuk di Tangerang Selatan dan masuk rekor Muri sebagai daerah yang RT dan RW-nya dilengkapi Satgas PA ini. Mudah-mudahan Riau menyusul, hingga anak dapat dikontrol dengan maksimal," jelasnya. ***