TEMBILAHAN, GORIAU.COM - Penderita thalasemia di Indragiri Hilir, Riau terus meningkat. Bahkan saat ini sudah mencapai 16 orang.

Berdasarkan informasi yang didapat GoRiau.com dari Komunitas Donor Darah Inhil (KDDI) jika sebelumnya KDDI hanya rutin mencarikan darah untuk satu penderita Thalasemia, kini KDDI sudah harus mencarikan pasokan darah secara rutin tiap bulannya untuk ke 16 penderita Thalasemia lainnya.

Ketua KDDI, Heri Irawan menyebutkan bahwa umumnya semua penderita Thalasemia di Inhil adalah dari kalangan masyarakat menengah kebawah sehingga peran Pemerintah Kabupaten sangat diperlukan yang meskipun para penderita menggunakan Jamkesda dalam setiap melakukan pengobatan.

''Penderita thalesamia ini seumur hidup harus melakukan transfusi darah setian bulan, okelah jika transfusi bisa di Tembilahan namun permasalahnya penyakit thalasemia ini per-1 bulan sekali harus ambil obat ke Pekanbaru, dan pertiga bulan sekali harus cek ke Pekanbaru karena Rumah Sakit di Tembilahan belum ada obat dan cek peritin. Selain itu, mereka juga perlu ongkos selama disana,'' sebut Hendri Irawan.

Untuk itu Hendri sangat berharap masyarakat dapat membantu para penderita Thalasemia ini dengan mengirimkannya melalui nomor rekening Komunitas Donor Darah Inhil 10236-01-57-008924-2 rekening batarapos.

Sementara itu dokter spesialis anak di RSUD Puri Husada Tembilahand, Dr Taufan Prasetya mengatakan pasien yang mengidap penyakit ini harus senantiasa untuk melakukan transfusi darah setiap 2 atau 3 minggu tergantung dari tingkat keparahannya. Transfusi dilakukan karena tubuh pasien sama sekali tidak dapat memproduksi sel darah merah.

''Gejala Thalasemia salah satunya dengan ditandai dengan penyakit anemia, misalnya muka pucat, susah tidur, lemas dan lesu, nafsu makan yang berkurang, infeksi yang terjadi namun secara berulang,'' ujar dr Taufan.

Ia juga menambahkan umumnya penderita Thalasemia ini susah terdeteksi karena meskipun Hemoglobin (HB-) rendah mereka (penderita Thalasemia red) masih bisa bertahan namun jika orang normal jika HB rendah pasti langsung merasakannya.

''Karena kita di RS ini adalah pihak sekunder maka kita minta kepada Puskesmas yang pihak Primer atau yang paling dekat dengan masyarakat untuk memberikan pengenalan awal kepada masyarakat tentang penyakit ini, sehingga bisa terdeteksi lebih awal dan bisa segera mendapatkan penanganan,'' harapnya.

Dikatakannya pula ada dua kendala RSUD Puri Husada untuk penanganan penyakit ini, pertama RS belum memiliki WE yaitu alat untuk penyaringan darah dan kedua RSUD belum dapat melakukan Pemeriksaan Peritin untuk memriksa hati sehingga untuk melakukan itu pasien Thalasemia harus melakukannya di Pekanbaru. (raa)