PEKANBARU – Berdasarkan The Global Competitiveness Report 2019 yang disusun oleh World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati urutan ke-72 dari 141 negara dalam hal pembangunan infrastruktur.

Urutan tersebut menunjukkan masih lemahnya kondisi infrastruktur di Indonesia yang ditandai dengan kurangnya kualitas dan kuantitas infrastruktur eksisting dan berimbas pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berjalan dengan tidak efisien.

Apalagi dalam masa pandemi COVID-19 yang sedang menyerang dunia saat ini, respons kebijakan yang tepat perlu ditempuh agar dampak pandemi tidak menjerumuskan ekonomi Indonesia ke dalam jurang resesi yang lebih dalam.

Dengan Tajuk “Tantangan, dan Peluang Pembangunan Menuju Pemulihan Nasional”, Universitas Lancang Kuning melalui Sekolah Pascasarjananya melakukan kegiatan kuliah umum, Sabtu (29/10/2022), guna menjawab Isu, Tantangan, dan Peluang Pembangunan Menuju Pemulihan Nasional, khususnya di daerah Provinsi Riau. Acara tersebut diselenggarakan di aula pustaka Universitas Lancang Kuning.

Wakil Dekan III Sekolah Pascasarjana Unilak, Muhammad Rasyid Abdillah, S.E., M.M., Ph.D., dipercaya sebagai moderator dalam kuliah umum tersebut. Kegiatan kuliah umum tersebut berjalan dengan lancar dan dengan antusias yang tinggi dari para peserta yang hadir sebanyak 320 orang mahasiswa Sekolah Pascasarjana Unilak.

Kuliah umum ini dibuka oleh Ketua Yayasan Pendidikan Raja Ali Haji, Prof. Irwan Efendi, M.Sc., dan sambutan dari Dekan Sekolah Pascasarjana Unilak, Dr. Adolf Bastian, M.Pd. Sambutan dan apresiasi tinggi diberikan oleh Ketua Yayasan terhadap kegiatan tersebut, khususnya kepada Staf Ahli Menteri Menteri PPN/Ka Bappenas yang bersedia dan berkesempatan hadir dalam Menjawab Isu, Tantangan, dan Peluang Pembangunan Menuju Pemulihan Nasional.

Dr. Adolf Bastian, dalam Sambutannya, menaruh harapan dengan adanya kegiatan seperti ini, dapat menyadarkan, membukakan mata kita bahwa perjalanan dalam membangun daerah kita di Riau ini masih panjang dengan segala tantangan menghadang. Kekuatan kepemimpinan daerah sangat dibutuhkan dalam menciptakan inovasi serta kolaborasi dengan berbagai kalangan khususnya pada kalangan akademisi, hingga peningkatan kualitas SDM adalah syarat mutlak bagi daerah untuk mampu mengakselerasi pembangunan secara terpadu dan bersinergi antar bidang, baik ekonomi, sosial dan infrastruktur, sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat yang lebih baik ke depan.

Sebagai narasumber, Unilak menghadirkan Staf Ahli Menteri Menteri PPN/Ka Bappenas, Erwin Dimas, S.E., DEA., M.Si., Dalam kuliah umum tersebut, Staf ahli Menteri PPN/Ka Bappenas tersebut mengajak perserta untuk menemukenali arah pembangunan dan memfokuskan materinya pada pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Riau. Dalam pembukaannya, ia mengatakan bahwa tahun 2022 merupakan tahun pertama mulai lepas dari tekanan COVID-19, sekaligus tahun kunci pemantapan pemulihan ekonomi. “3 Tahap Besar Bangsa Indonesia Saat Ini: Menurunkan Kasus, Pemulihan, dan Transformasi Ekonomi. Pada tahap transformasi ekonomi, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia harus menuju Upper Middle Income Country”, imbuhnya.

Pada pembukaannya, ia mengatakan bahwa tahun 2022 merupakan tahun pertama mulai lepas dari tekanan COVID-19, sekaligus tahun kunci pemantapan pemulihan ekonomi. “3 Tahap Besar Bangsa Indonesia Saat Ini: Menurunkan Kasus, Pemulihan, dan Transformasi Ekonomi. Pada tahap transformasi ekonomi, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia harus menuju Upper Middle Income Country”, imbuhnya.

Erwin Dimas juga menyampaikan bahwa faktor penghambat utama pertumbuhan jangka panjang adalah keuangan dan infrastruktur. Dari aspek keuangan, faktor penghambatnya adalah terbatasnya financial inclusion (literasi berinvestasi) dan penyaluran kredit belum maksimal. Pada aspek Infrastruktur, kualitas kondisi jalan yang masih perlu ditingkatkan merupakan faktor penghambat yang utama. Padahal, Berdasarkan data BPS (2021), Riau sebagai 5 Provinsi Terbesar Kontributor Industri Manufaktur.

“Strategi pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Riau yang dapat kita lakukan adalah kuatkan engine of growth dan kuatkan pondasi ketahanan, dengan kata kunci berani untuk fokus, jejaring aktif antar instansi, dan mendorong peran swasta”, tuturnya.

Erwin Dimas, SE., DEA., MSi, baru diketahui masyarakat luas jika ia adalah putra daerah kabupaten Indragiri Hilir .

Erwin Dimas lahir di Rengat pada tanggal 5 Juli 1974, ia merupakan anak dari pasangan bapak Drs H Bakir Alie dan dan ibu Respati yang tak lain adalah Bupati Indragiri Hilir dari tahun 1977 sampai tahun 1987.

Ia mengambil Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (1998). Dengan kepiawaian dan keseriusannya belajar, ia berhasil menyabet gelar S-1 Sarjana Ekonomi.

Melihat kesempatan dan peluang untuk bergelut di pendidikan terus terbuka, Erwin Dimas kembali melanjutkan kuliah di Prancis yaitu di Universite d'Orléans – France pada Faculté Economie, Gestion et Droit. Gelar S-2 Diplome Etude Approfondies (DEA) diraihnya tahun 2001.

Erwin sepertinya memang gemar belajar, ia kembali mengambil S2 di Jurusan Ilmu Politik di Universitas Indonesia (2006) dan ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan menyematkan gelar Magister Sains (MSi) ilmu politik. Dengan demikian, saat ini ia memegang 2 gelar S-2 pada bidang yang berbeda yaitu ekonomi dan politik. Menurut nya ekonomi dan politik tidak bisa dipisahkan. ***