PASIR PENYU, GORIAU.COM Pasca kebakaran pasar Sri Gading Air Molek, kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) yang terjadi beberapa waktu lalu, mengakibatkan 184 pedagang kehilangan tempat berjualan, hingga saat ini ratusan pedagang itu masih belum mendapatkan solusi terkait tempat berjualan yang baru.

Camat Pasir Penyu, M.Solkan ketika dikomfirmasi mengatakan bahwa para pedagang tersebut sudah mengadakaan rapat dengan pemerintah Inhu, dlam hal ini dengan instansi terkait, "sebanyak 184 orang pedagang yang menjadi korban kebakaran pasar Sri Gading tersebut telah melakukan pertemuan dengan Pemkab Inhu, guna mencari solusi kepada para pedagang agar tetap bisa melakukan kegiatan jual beli di pasar tersebut", ujar Solkan.

Dalam rapat tersebut, ada tiga pilihan yang ditawarkan Pemkab Inhu kepada pedagang. Pertama, para pedagang boleh memanfaatkan bagunan atau los, gazebo, dan kios yang tidak terbakar di sisi pasar. Kedua, pedagang boleh membangun los, kios sementara di depan pasar induk dengan swadaya.

Ketiga, pedagang juga boleh membuat lapak jualan sementara di areal terminal yang berada di depan pasar induk Sri Gading. Namun terkait hal ini tentu harus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Inhu, sebut Solkan menerangkan.

Masih kata Solkan yang juga mantan camat Sei Lala itu, pilihan yang diberikan tersebut bertujuan, agar para pedagang tidak merugi lebih besar. Karena, jika nantinya Pemkab Inhu akan membangun kembali lokasi pasar yang terbakar, maka lapak yang dibuat oleh pedagang tersebut tentu akan dibongkar. Sehinga kita tidak mau mereka dirugikan, sehingga kita memberikan tiga pilihan kepada mereka, tambahnya.

Ditambahkannya, Pemkab Inhu menjamin 184 pedagang yang telah didata menjadi korban kebakaran tersebut tetap mendapatkan lokasi lapak jualannya kembali setelah pasar tersebut dibangun. "Meski pedagang pindah dilokasi sementara, mereka yang telah didata tetap mendapat lokasi lapak semula," jelasnya.

Sementara itu, saat ini para pedagang korban kebakaran tersebut menglami dilema, sebab jika mereka pindan berjualan, nantinya mereka takut kehilangan lokasi lapak jualan yang terbakar. Seperti yang diungkapkan Ishak salah seorang pedagang korban kebakaran tersebut, Senin (26/8/2013).

Sehingga, saya dan para pedagang korban lainnya enggan pindah ke lokasi sementara yang ditawarkan Pemkab Inhu. Sebab, mereka takut kehilangan lokasi lapak semula yang telah terbakar, paprnya.

Tak hanya itu, menurut Ishak, para pedagang bersedia membangun kios, gazebo maupun los secara swadaya asal mendapat persetujuan Pamkab Inhu di lokasi bekas terbakar. "Kami siap bangunan yang kami bangun dibongkar kembali saat Pemkab Inhu ingin membangun kembali pasar itu. Tapi, biarkan kami berdagang di lapak semula," sebutnya.

Selain itu, sambung Ishak, para pedagang juga bersedia pindah ke lokasi sementara yang diberikan Pamkab Inhu, tapi para pedagang yang menjadi korban harus mendapat jaminan agar dapat kembali lapak pasar semula setelah Pemkab membangun pasar tersebut.(jef)