
PEKANBARU – Panitia Seleksi (Pansel) pemilihan direksi empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Riau diingatkan untuk 'tidak masuk' angin dari awal. Pansel diharapkan mampu memilih individu yang profesional, jujur dan mau bekerja keras untuk kemajuan daerah Provinsi Riau.
"Pansel-nya jangan sampai 'masuk angin' dari awal, supaya dapat direksi yang punya taring buat majukan daerah. Riau ini tidak kekurangan orang pintar, tapi Riau butuh orang jujur yang mau bekerja keras memajukan daerah, bukan memperkaya kelompok," kata pengamat ekonomi Dahlan Tampubolon dalam catatannya kepada GoRiau, Selasa (24/2/2026) malam.
Dahkan mengingatkan, saat ini Provinsi Riau sedang menghadapi tantangan fiskal yang cukup berat. Karena itu, katanya, BUMD tidak boleh lagi menjadi "beban" yang terus-menerus meminta penyertaan modal.
"Seleksi ini harus menghasilkan direksi yang mampu mengubah BUMD menjadi profit center yang memberikan deviden nyata bagi PAD, bukan sekadar tempat menghabiskan anggaran operasional. Riau ini kaya, jangan dibikin melarat gara-gara manajemen "titipan" yang cuma pandai menghabiskan anggaran," kata Dahlan.
Diketahui, Pemprov Riau saat ini sudah merampungkan pembentukan pansel untuk menyeleksi direksi empat BUMD strategis Riau, yakni PT Sarana Pembangunan Riau (SPR), PT Riau Petroleum, PT Permodalan Ekonomi Rakyat (PER), dan PT Pengembangan Investasi Riau (PIR). Pansel akan menjadi ujung tombak dalam menjaring sosok profesional guna memperkuat kinerja perusahaan sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Tim Pansel yang empat itu jangan sampai cuma jadi pajangan atau tukang stempel untuk meloloskan nama-nama yang sudah ''dititipkan" biar kelihatan prosedur sudah jalan. Tanggung jawab mereka sangat besar, bukan cuma formalitas. Kita berharap mereka benar-benar jadi "penyaring" yang ketat. Publik Riau sudah cerdas, masyarakat pasti bakal memantau siapa saja yang bakal lolos nanti," ingat akademisi Universitas Riau ini.
Menurut Dahlan, kebiasaan spoils system, asal ganti pimpinan daerah, ganti pula direksinya, harus segera dibuang. Bagaimana BUMD mau bagus kalau setiap berganti nakhoda, mesin kapalnya dibongkar pasang terus cuma demi balas budi politik. Kalau direksi empat BUMD Riau nanti cuma diisi tim sukses yang tidak mengerti cara jualan, BUMD Riau bisa hancur.
"BUMD itu korporasi, bukan panti asuhan buat nampung orang-orang yang nggak laku di pasar profesional. Pergantian pimpinan daerah yang diikuti pergantian direksi secara "borongan" tanpa evaluasi kinerja yang objektif akan merusak stabilitas korporasi," sebut Dahlan.
Apalagi, lanjut Dahlan, direksi BUMD yang diseleksi kali ini bergerak di sektor yang sangat teknis. Mengelola sektor migas dan Participating Interest (PI). Dibutuhkan orang yang paham industri hulu-hilir migas, bukan sekadar administrator. Fokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat dan UMKM. Dibutuhkan ahli keuangan mikro yang memiliki empati sosial sekaligus ketegasan manajerial. Fokus pada investasi. Dibutuhkan sosok visioner yang mampu menarik investor ke Riau, bukan sekadar menunggu proyek APBD.
"Mengingat Riau adalah daerah kaya migas, direksi PT Riau Petroleum dan SPR yang baru harus mampu memaksimalkan potensi PI 10 persen agar benar-benar masuk ke kas daerah secara berkelanjutan, guna mendanai pembangunan infrastruktur yang masih banyak rusak di Riau," kata Dahlan.
Pada bagian lain, Dahlan menekankan perlunya publik diberikan akses untuk mengetahui sejauh mana kemampuan para calon. Rekam jejak (track record) mereka di perusahaan sebelumnya harus dibuka agar tidak ada "kucing dalam karung." Direksi terpilih nanti, kata Dahlan, harus berani menandatangani kontrak kinerja dengan target PAD yang terukur. Jika dalam waktu tertentu tidak tercapai, mereka harus siap mengundurkan diri tanpa harus menunggu masa jabatan habis.
"Jadi, seleksi pas Ramadhan ini harusnya jadi manifestasi dari semangat perubahan. Momen bulan suci ini memang selayaknya menjadi momentum "pembersihan" dan perbaikan niat untuk membangun daerah. Semoga yang terpilih adalah mereka yang memiliki kapasitas (ilmu), kapabilitas (kemampuan eksekusi), dan integritas (kejujuran). Mari kita kawal bersama agar BUMD Riau benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Bumi Lancang Kuning," harapnya.
Berikut adalah susunan tim pansel di empat BUMD Riau:
PT Sarana Pembangunan Riau, diketuai M Job Kurniawan, didampingi Saiman Pakpahan dan Ahmad Ismail sebagai anggota.
PT Riau Petroleum dipimpin oleh Yan Dharmadi sebagai ketua, didampingi Sarifa Faradinna dan Ahmad Ismail sebagai anggota.
PT Permodalan Ekonomi Rakyat posisi ketua diemban Indra, bersama Saiman Pakpahan dan Aspadiar sebagai anggota.
PT Jamkrida Riau menunjuk M Job Kurniawan sebagai ketua, bersama Irving Kahar dan Syafriadi selaku anggota. ***