JAKARTA – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah sempat mereda lewat gencatan senjata selama beberapa pekan. Ketegangan terbaru meletus di sekitar Selat Hormuz pascadiadakannya operasi militer AS, Kamis (28/5/2026).

Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah memprediksi konfrontasi kedua negara ini akan berlangsung panjang dengan daya hancur yang lebih besar.

"Amerika Serikat akan terus menyerang Iran tanpa batas waktu berhenti. Iran akan membalas dengan menggunakan perangkat Plasma, yang daya rusak dan daya hancurnya luar biasa," ujar Teuku Rezasyah, Jumat (29/5/2026).

Serangan terbaru militer AS menargetkan lokasi strategis di Selat Hormuz yang dianggap mengancam pasukan dan lalu lintas komersial mereka. Merespons hal tersebut, militer Iran melepaskan tembakan peringatan ke arah empat kapal yang mencoba melintasi selat dan memasuki Teluk Persia tanpa koordinasi.

Teuku Rezasyah menilai situasi ini berpotensi meluas dengan keterlibatan sekutu AS di Indo-Pasifik. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dianggap tidak bisa berbuat banyak karena bersikap normatif.

"Diperkirakan perang konvensional akan berlangsung lebih lama. AS akan menyatakan dirinya sebagai pemenang perang menjelang 4 Juli 2026. Yakni 250 tahun pendirian AS," tambahnya. ***