BANGKINANG - Datuk Bandaro Majo, Herman, asal Desa Sungai Rambai Kecamatan Kampar Kiri terkejut. Tanpa pernah merasa diwawancara, komentar dirinya terkait sebuah dugaan penyelewengan Penyaluran Dana Program Keluarga Harapan (PKH) muncul di media online. Tidak hanya satu, tapi tiga media online sekaligus.

Komentar yang dimuat itu berpeluang ada implikasi hukum, hingga Herman merasa dirinya sangat dirugikan. Herman merasa sangat keberatan kepada sejumlah media online yang menerbitkan komentarnya terkait masalah dugaan memotong dana PKH yang tidak pernah diucapkannya.

''Saya tidak pernah melaporkan persoalan ini kepada media, pasca terjadi pemberitaan sampai saat ini saya tidak pernah ketemu dengan yang namanya Yohanes, yang menulis berita itu,'' sebut Herman yang dianggap tokoh masyarakat di Desa Sungai Rambai Kecamatan Kampar Kiri ini, Selasa (12/2).

Atas pemberitaan itu, dirinya akan mengancam oknum wartawan ke pihak yang berwajib. Sebab dirinya menilai oknum wartawan tersebut tidak pernah melakukan konfirmasi kepada dirinya yang dijadikan narasumber. Sifatnya pemberitaan yang bukanlah berita yang salah, melain berita karangan atau fiktif, menjadi motifnya membawa ke ranah hukum.

Ads
''Saya merasa keberatan dengan pemberitaan yang dibuat oleh wartawan itu, apalagi foto saya dipajang di media. Saya akan melaporkan ke pihak yang berwajib," tegasnya lagi.

Pada keterangannya yang diterima wartawan, Herman menyebutkan setidaknya tiga media online yang disebutnya telah menerbitkan berita dirinya. Masalah ini menurut Herman makin membuat dirinya terpojok, karena dalam konten berita itu dirinya menyudutkan nama istri anggota DPRD Kampar yang diduga oleh wartawan dalam tulisannya telah melakukan penyelewengan Penyaluran Dana PKH di Desa Sungai Rambai. Berita itu sendiri terbit pada Senin (4/2) lalu.

Adapun wartawan yang dituding Herman merusak citra dirinya, belum bisa dikonfirmasi hingga tulisan ini diturunkan. ***