
SELATPANJANG - Lebih 45 tahun tembang-tembang lawas yang berasal dari negara sahabat Malaysia, masih melekat di hati warga Kepulauan Meranti, Riau. Lagu-lagu lawas itu masih diperdengarkan, bahkan banyak di ponsel warga tersimpan lagu dari Malaysia ini.
Peminatnya pun beragam. Misalnya, lagu-lagu lawas era 60-an. Tembang yang dinyanyikan A Ramlie, Jefrydin, M Ishak, A Rahman Onn misalnya, masih sering diputarkan dan masih enak didengar. Bahkah, ada beberapa rumah yang masih mengoleksi kaset-kaset penyanyi lawas asal Malaysia ini. Peminatnya mungkin saat ini sudah berusia 60 tahun atau 70 tahun, namun sebagian anak-anak muda juga doyan.
Sementara di era 80an atau 90an, penyanyi seperti Awie Wings, Ella, Amy Search, May, Data, Damasutra, Bumi Putra Roker, XPDC, dan lan-lain juga masih mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Lagu-lagu andalan Malaysia bergenre slow rock ini masih sering diputar baik MP3 handphone, maupun radio-radio di Kota Sagu.
Di beberapa counter ponsel, jika ada warga yang minta isi lagu-lagu lawas Malaysia, dengan mudah mendapatkannya. Karena, memang lagu-lagu ini masih ada tersimpan.
Salah satu bukti lagu-lagu lawas Malaysia masih ada peminatnya, terlihat pada acara Bokor One Night yang digelar Sanggar Bathin Galang bekerjasama dengan Pokdarwis Sake II Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat, Riau, Sabtu (9/1/2016) malam.
Sejak diwacanakan akan digelar kegiatan musik itu, sudah ada beberapa grup yang menyatakan kesiapannya ikut dan menyanyikan lagu-lagu slow rock Malaysia.
Woy Band misalnya. Band asal Pekanbaru yang rata-rata personilnya masih muda, bersedia nampil dan membawakan lagu-lagu lawas. Agar tampil maksimal, Jefry Almalay dan kawan-kawan telah menggelar latihan, untuk menyanyikan beberapa tembang lawas itu.
Bahkan, guna memaksimalkan penampilan di atas panggung nantinya, personil Woy Band telah berburu propertis ala penyanyi lawas. Celana ngepas, dipadu dengan rantai-rantai, ikat pinggang ala rocker pun telah disiapkan. Gambar saat Woy Band latihan mengenakan atribut rocker lawas telah beredar di media sosial.
Kepada GoRiau, Sopandi mengaku sengaja menggelar acara Bokor One Night. Acara setiap dua bulan ini akan mengangkat tema berbeda. Untuk Januari 2016, mereka akan mengangkat tema Slow Rock Malaysia. "Kita ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas," kata Sopandi.
Lalu, apa kira-kira yang ada di dalam sajak lagu Malaysia sehingga sampai saat ini masih melekat di hati warga.
Secara jelas Sopandi tidak bisa memberikan alasan.
Namun, menurut laki-laki yang gemar bermusik dan telah menglanglang buana ke beberapa negara sahabat, mungkin karena ketika lagu itu dinyanyikan kembali, ada kenangan lama yang terasa ketika lagu itu membooming di Indonesia sekitar 40 tahun silam. "Saya rasa, karena ada kenangan lama yang teringat ketika lagu itu kita dengarkan kembali," kata Sopandi.
Hal itu dibenarkan Amin, salah seorang warga Selatpanjang. Menurut Amin, ketika Ia mendengarkan lagu slow rock Malaysia, seperti ada kenangan lama yang terasa di hati. Namun, tak jarang Ia telah lupa sebenarnya kenangan tersebut tentang apa.
"Waktu lagu era 80an itu membooming, saya masih SD. Banyak kenangan semaca kecil. Ketika kita pulang sekolah, rata-rata di radio warga memutarkan lagu Malaysia," kata Amin pula.
Memang, karena letak geografis yang berdekatan dengan Malaysia, tak hanya siaran radio, televisi juga sering menayangkan film-film Malaysia. Bahkan, tidak sedikit warga Meranti yang menetap di Malaysia. Kalau dari logat bahasa dan budaya, memang ada kesamaan antara dua negara serumpun itu. ***