EMPAT dekade yang lalu trend manajemen perawatan luka telah berubah, dari metode konvensional/tradisional menjadi modern. Konsep manajemen perawatan luka modern dengan basis lembab (moisture balance) pertama sekali diperkenalkan Winter (1962) dalam Gitarja (2008), dan telah diadopsi oleh banyak negara.

Makanya, untuk mengupas tuntas perawatan luka modern ini, Mukhlis Azhar menggagas seminar dengan tema Perawatan Luka Modern untuk Rakyat yang akan dilaksanakan di VIP Room Ayam Penyet Pak Ulis, Rabu (16/8/2017), pukul 08.00 di Lhokseumawe.

"Perawatan luka ini banyak diderita oleh penderita penyakit gula. Bila luka sedikit harus segera dirawat sehingga jangan sampai diamputasi. Jadi perawat-perawat harus mengetahuinya," ungkap Mukhlis Azhar, Kamis (3/8/2017) malam.

Menurut politisi Hanura ini, keuntungan konsep lembab ini adalah membuat lingkungan yang mempercepat re-epitalisasi, menjaga kelembaban dan akan menurunkan infeksi. Hal ini sebagaimana penelitian (Halim, Khoo & Saad, 2012), dasar luka yang lembab dapat merangsang pengeluaran growth factor yang mempercepat proses penyembuhan luka.

Perawatan luka lembab, kata pria yang akrab disapa Pak Ulis ini, telah popular dilakukan karena telah terbukti dapat meningkatkan penyembuhan, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan dan mengurangi tingkat infeksi. Keunggulan lain dari perawatan luka modern adalah mengurangi infeksi dan infeksi silang, mengurangi jaringan parut, mengurangi waktu perawatan dan mengganti balutan, serta mengurangi biaya.

"Perawatan luka dengan konsep lembab dapat diaplikasikan pada luka akut, dan luka kronik, karena kelembaban mampu mempercepat pengeluaran growt factor, dan mempercepat pembentukan fibrin sebagai pencetus proses penyembuhan luka," ungkapnya mengutip Poerwantoro, 2013.

Sedangkan konsep perawatan luka konvensional/tradisional sudah ditinggalkan oleh banyak rumah sakit atau tempat-tempat perawatan luka, karena akan mengurangi keefektivan pelayanan keperawatan dan lamanya proses penyembuhan luka, yang berdampak terhadap peningkatkan biaya perawatan.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Slater (2008) bahwa perawatan luka dengan konsep moist akan mengurangi resiko infeksi sehingga akan mempercepat proses penyembuhan luka, dan mengurangi hari pergantian balutan sehingga akan mengurangi beban biaya yang diperlukan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya perbedaan yang besar antara perawatan luka konvensional dengan perawatan luka modern.

Penelitian yang dilakukan Nurachmah, Kristianto, dan Gayatri (2011) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perawatan luka teknik modern dan konvensional. Proses pelepasan growt faktor lebih cepat terjadi pada kondisi perawatan luka lembab dibandingkan perawatan luka secara konvensional. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi proses penyembuhan luka terutama pada tahapan proliferasi atau granulasi.

"Jadi, selain seminar, kita juga melakukan kegiatan perawatan luka gratis bagi masyarakat. Sedangkan dalam seminar nanti, akan dihadiri narasumber Ns, Edy Mulyadi, MKep, WOC(ET)N, seorang spesialis perawat luka," tandasnya.