SETIAP tanggal 10 November, bangsa ini mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dan martabat Indonesia. Namun, dalam ruang penghormatan itu, masih ada nama besar dari tanah Kampar yang belum sepenuhnya tercatat dalam narasi kepahlawanan nasional: Mohammad Amin, yang dikenal sebagai “Harimau Kampar”. Ia bukan sekadar tokoh lokal, tetapi salah satu figur kunci dalam peneguhan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Riau.

Mohammad Amin lahir pada 3 Maret 1912 di Batu Belah, Kenegerian Air Tiris. Lingkungan adat dan agama membentuk karakter kuat yang kelak menjadikannya pemimpin yang teguh dalam membela marwah bangsa. Bukti paling monumental dari keberanian itu terjadi pada 9 September 1945, ketika ia menjadi orang pertama yang mengibarkan Merah Putih di Kampar, saat Jepang dan Belanda masih bercokol. Pengibaran ini bukan tindakan seremonial, melainkan pernyataan perlawanan, bahwa rakyat Kampar memilih Republik, bukan penjajahan.

Lebih dari itu, ia memimpin upacara pengibaran bendera pada 10 September 1945 di Bangkinang yang dihadiri ribuan rakyat. Momen ini menjadi deklarasi terbuka rakyat Kampar kepada Republik Indonesia. Bagi saya, ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi penegasan identitas dan keberanian kolektif yang patut diabadikan dalam memori bangsa.

Perjuangan Mohammad Amin tidak berhenti setelah senjata diletakkan. Ia berperan dalam pembentukan Provinsi Riau, memindahkan ibu kota Kabupaten Kampar ke Bangkinang, dan mengabdikan diri dalam bidang sosial, agama, serta pembangunan masyarakat. Julukan “Harimau Kampar” bukan hanya gambaran keberanian fisik, tetapi juga keteguhan moral dalam membela rakyat dan keadilan.

Hari ini, masyarakat Kampar dan Riau terus memperjuangkan agar nama beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Saya percaya, perjuangan beliau telah memenuhi kriteria kepahlawanan: keberanian, keteladanan, dan kontribusi nyata bagi bangsa. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian moral negara untuk mengakui jasa tersebut dalam skala nasional.

Semangat “Harimau Kampar” mengajarkan bahwa perjuangan bukan hanya bertempur di medan perang, tetapi terus hidup dalam kesetiaan pada nilai, integritas, dan pengabdian tanpa pamrih. Dan di Hari Pahlawan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak sekadar mengenang, tetapi menuntaskan tugas sejarah: memastikan bahwa jasa Mohammad Amin tercatat terhormat dalam catatan bangsa.

Sebab penghargaan terhadap pahlawan adalah bukan semata soal masa lalu, tetapi tentang siapa kita memilih untuk menjadi bangsa ini di masa depan. ***

* Rival Lino adalah cucu Mohammad Amin .