TOBA - Harapan untuk menemukan Christoper Rustam (21) akhirnya menemui titik akhir. Upaya pencarian mahasiswa Universitas Katolik (Unika) Santo Thomas Medan yang tenggelam di perairan Danau Toba, tepatnya di area Air Terjun Situmurun, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, resmi dihentikan, Jumat (17/4/2026) sore.

Insiden nahas ini bermula Sabtu (11/4/2026) siang saat korban bersama 59 rekan dan pendamping kampus, Romo R.D Ngadiono, menumpangi Kapal Penumpang KM Sibole-Bole 01 Silima Lombu untuk berekreasi. Baru 20 menit berenang di seputaran jatuhan air terjun, Christoper mendadak mengalami kram kaki yang berujung pada tenggelamnya pemuda tersebut.

Setelah sepekan proses pencarian berlalu tanpa hasil, pihak keluarga akhirnya menerima kenyataan dengan lapang dada. Koordinator Pos SAR Danau Toba, Erikson Gultom, menyebut keputusan penghentian operasi diambil usai pertemuan dan evaluasi menyeluruh bersama pihak keluarga.

"Keluarga sudah menerima, melihat selama tujuh hari kami sudah usahakan maksimal dan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. TNI AL juga turun kemarin dalam melakukan pencarian," urainya, Sabtu (18/4/2026).

Misi pencarian ini melibatkan energi besar dari personel gabungan Pos SAR Danau Toba, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Toba, Polsek Lumban Julu, serta barisan relawan. Tim menyusuri permukaan air hingga radius 1,5 mil atau 2,4 kilometer menggunakan kapal Rigid Buoyancy Boat (RBB).

Kondisi alam Danau Toba memberikan tantangan yang terlampau berat bagi tim penyelamat. Berada di atas ketinggian, danau ini memiliki tekanan air yang jauh berbeda dari laut, sehingga membatasi pergerakan enam penyelam yang berupaya mencari tubuh korban.

Meski sudah mengerahkan pemindai Aqua Eye dan sonar, keterbatasan jarak pandang akibat air keruh, cuaca mendung yang memicu hujan, serta kontur bebatuan di bawah jatuhan air terjun menjadi rintangan utama yang tak bisa ditembus. Kedalaman penyelaman maksimal hanya mampu menyentuh angka 40 hingga 45 meter.

"Penyelaman sampai batas kemampuan penyelam dan enggak sampai ke dasar air karena kita juga harus memikirkan keselamatan penyelam," jelasnya.

Kendati operasi penyisiran aktif telah ditutup, proses pemantauan pasif tetap berjalan untuk memberikan secercah harapan.

"Pemantauan yang dilakukan jika ada informasi keberadaan korban benar-benar ada, misalnya korban sudah mengapung kami akan evakuasi," tambahnya.***