JAKARTA – Kemenangan Manchester United atas Sunderland ternyata belum sepenuhnya membuat legenda klub, Gary Neville, terkesan. Mantan bek kanan Setan Merah itu menilai, hasil 2-0 di Old Trafford, Sabtu (4/10/2025), hanyalah penenang sementara di tengah performa tim yang masih inkonsisten di bawah asuhan pelatih Ruben Amorim.

Dalam pertandingan tersebut, dua gol dicetak Mason Mount pada menit ke-8 dan Benjamin Sesko pada menit ke-31. Meski kemenangan itu mengakhiri tren negatif Manchester United, Neville menilai tim belum menunjukkan karakter sejati klub sebesar United. 

“Itu laga yang wajib dimenangkan. Tapi saya rasa kemenangan ini tidak membuat Amorim sepenuhnya aman,” ujar Neville dalam Gary Neville Podcast, dikutip dari Sky Sports. 

Menurutnya, kekalahan demi kekalahan sebelumnya membuat kepercayaan terhadap Amorim semakin tergerus. “Catatan kekalahan mereka terlalu banyak, performanya terlalu buruk. Tidak ada yang akan berpesta malam ini di Manchester. Kemenangan ini hanya membuat mereka bisa bernapas sejenak sebelum jeda internasional,” tambahnya. 

Neville juga menyoroti bahwa kemenangan atas tim sekelas Sunderland seharusnya bukan prestasi besar bagi klub seperti Manchester United. “Fakta bahwa banyak yang meragukan mereka bisa menang bahkan sebelum pertandingan dimulai sudah cukup menjelaskan masalah di tim ini,” katanya. 

Sebelum laga, Amorim sempat menyebut bahwa kritik dari media memengaruhi kepercayaan diri para pemainnya. Menurut pelatih asal Portugal itu, sistem 3-4-3 yang diterapkannya kini diragukan pemain akibat tekanan opini publik.

“Mereka mendengarkan semua komentar itu, lalu mulai ragu pada taktik kami. Mereka harus percaya pada saya,” ujar Amorim dalam konferensi pers. 

Namun, Neville menilai komentar Amorim justru menunjukkan lemahnya mentalitas skuadnya. “Kalau kritik dari pundit membuat Anda terganggu, maka Anda tidak pantas bermain untuk klub sebesar Manchester United,” tegas Neville. 

Ia menyinggung pengalamannya ketika bersama “Class of ‘92”, generasi pemain muda yang pernah diremehkan oleh Alan Hansen. “Kami dulu dikritik keras, tapi kami menjawabnya dengan performa di lapangan, bukan keluhan. Main untuk Manchester United artinya siap hidup di bawah tekanan,” ujarnya. 

Neville menegaskan bahwa baik pelatih maupun pemain harus bertanggung jawab penuh atas performa tim. “Kalau sistem tidak berjalan, maka manajer atau pemain yang harus mengakuinya. Tidak ada ruang untuk mencari kambing hitam,” katanya. 

Menutup komentarnya, Neville mengingatkan pentingnya tanggung jawab di ruang ganti. “Di era kami, kalau kalah, kami masuk ruang ganti dan saling menatap mata. Kami tahu siapa yang salah dan memperbaikinya. Tidak ada alasan,” tuturnya. 

Manchester United selanjutnya akan menghadapi ujian berat melawan Liverpool di Anfield pada Minggu (19/10/2025) — laga yang bisa menjadi tolak ukur sejauh mana Ruben Amorim benar-benar mampu membawa klub kembali ke jalur kemenangan. ***