PEKANBARU, GORIAU.COM - Dalam jangka waktu 10 tahun terakhir, ekonomi petani swadaya cenderung stagnan bahkan menurun. Hal itu disebabkan oleh kebutuhan yang sangat besar sedangkan pendapatan tidak kunjung berubah.
Hal itu dibuktikan dengan kepemilikan lahan perkebunan para petani kecil tidak kunjung berubah dari 10 tahun sebelumnya. Untuk mencari solusinya, seharusnya petani terus mengembangkan dan menambah lahan perkebunannya. Namun dikarenakan adanya moratorium pengembangan lahan perkebunan dan juga lahan yang semakin mahal, maka hal itu dilaksanakan.
Kekhawatiran itu pun dirasakan oleh Zulher yang juga Kepala Dinas perkebunan Provinsi Riau. Saat dihubungi Minggu (22/6/2014) siang, beliau mengungkapkan salah satu cara meningkatkan pendapatan pekebun, maka pekebun harus sudah meninggalkan pola perkebunan yang tradisional yaitu seluruh tahapan pengelolaan lahan perkebunan menggunakan tenaga manusia. Pekebun harus sudah memodernisasi peralatannya pemanenan, pemupukan, pengangkutan buah atau yang lainnya.
''Dengan adanya modernisasi alat perkebunan ini, maka beban operasional akan terpangkas dan waktu kerja pun akan semakin singkat. Dengan biaya operasional akan terpangkas dan waktu kerja semakin singkat tentunya akan meningkatkan pendapatan petani,'' ujar Zulher.
Memang, dalam kondisi sekarang ini harga alat-alat pendukung perkebunan seperti dodos elektrik, mesin penabur pupuk, atau mobil pengangkut dan pengangkat TBS masih mahal, namun petani dapat menyiasatinya dengan berkelompok. Peralatan tersebut dibeli dengan berkelompok, apalagi juga kelompok tani kelapa sawit di Riau sudah banyak yang mapan maka memudahkan dalam pembelian.
''Petani yang tidak berkelompok tentu akan kesulitan membeli peralatan tersebut. Namun beda jika petaninya berkelompok. Contohnya, mesin penabur buah atau pengangkut buah tentu petani tidak akan tiap hari memakainya, namun jika mereka berkelompok, maka mereka bisa silih berganti memakainya. Untuk itu, saya kembali mengimbau kepada petani yang tidak berkelompok untuk segera berkelompok, banyak manfaat poktan tersebut, disamping kemudahan dalam penguasaan alat pertanian ini, juga memudahkan dalam penjualan dan harganya pun akan lebih tinggi,'' imbuh mantan sekda Kampar ini.
Dia menilai, jika petani tidak melakukan berbagai inovasi dalam pengelolaan usaha perkebunannya mulai sekarang, maka mereka akan kesulitan dengan persaingan ketat ke depannya. Menurutnya, tanah akan semakin mahal, maka tidak mungkin lagi lahan perkebunan akan terus berkembang. Himbauan tersebut juga menurutnya berlaku untuk para perusahaan perkebunan dan juga para petani berdasi yang selama ini menginvestasikan dananya di subsektor perkebunan.
''Ingat, investasi di subsektor perkebunan itu mahal, jika salah-salah dalam mengelola, maka dana akan tenggelam dan hasil yang diharapkan tidak akan tercapai. Maka sudah saatnya para pelaku usaha perkebunan memodernisasi peralatannya, sehingga biaya operasional akan terpangkas,'' saran Zulher lagi. (rls)