
PEKANBARU - Penyakit ngorok melanda ternak kerbau di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), dan investigasi terbaru dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Riau menemukan bahwa mayoritas ternak yang terpapar belum pernah divaksin.
Faralinda Sari, Kabid Kesehatan Hewan, pada Rabu, 10 Mei 2023, mengungkapkan bahwa investigasi tersebut menemukan kasus pertama kerbau terpapar penyakit ngorok pada 30 April di Desa Kopah, Kuansing. "Jumlah populasi kerbau yang ada di Desa Kopah sekitar 4 ribu ekor dengan sistem pemeliharaan diumbar di perkebunan kelapa sawit," katanya.
Menurut Faralinda, investigasi juga menemukan bahwa ternak yang terkena dampak penyakit ngorok di desa tersebut sebagian besar belum pernah diberikan vaksin. "Sepekan jelang temuan pertama kasus ngorok tersebut, stok vaksin di Kuansing telah habis," ujarnya.
Faralinda melanjutkan, "Jumlah kasus penyakit ngorok periode kejadian 15 Maret sampai 9 Mei 2023 yakni yang mati sebanyak 65 ekor, potong paksa 99 ekor, dan 15 ekor di jual." Penyakit ngorok ini menyebar di tujuh desa dengan jumlah korban beragam di setiap desa.
Kejadian penyakit ngorok ini pertama kali dilaporkan pada 2 Februari 2023 dengan tiga ekor kerbau di Desa Tanjung Pauh dan lima ekor di Desa Sungai Paku menunjukkan gejala klinis ngorok, nasal discharge, cairan berbuih dari mulut dan kematian mendadak.
"Setelah kejadian di Desa Tanjung Pauh dan Sungai Paku dilakukan vaksinasi massal pada bulan Februari sampai April 2023 di luar daerah tersebut untuk mengantisipasi penyebaran kasus. Adapun vaksin yang ditambahkan dari Provinsi sebanyak 800 dosis ditambah 500 dosis dari vaksin yang tersisa di kabupaten. Sehingga total vaksin yang tersedia untuk Kabupaten Kuansing sejumlah 1.300 dosis," tutup Faralinda.
Kasus ini menunjukkan pentingnya vaksinasi sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran penyakit ngorok di kalangan ternak. Kekurangan stok vaksin di Kuansing menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk mencegah penyebaran penyakit ini lebih lanjut. ***