SELATPANJANG, GORIAU.COM - Tahun ini, sebanyak 26 Rumah Layak Huni (RLH) akan dibangun di Dusun Nerlang Desa Sungai Tohor Barat Kecamatan Tebingtinggi Timur, Riau. Sebelum pembangunan RLH ini sudah terlebih dahulu dilakukan survey pada tahun 2013 yang lalu.


Demikian disampaikan Camat Tebingtinggi Timur (3T) Helfandi SE MSi, kepada GoRiau.com, Sabtu (6/4/2014) sore. Kata Helfandi, sebanyak 26 RLH itu akan dibangun pada tahun 2014 ini untuk masya Komunitas Adat Terpencil ( KAT ) di RT Nerlang Sungaitohor.
"Untuk RT di Nerlang itu saya sudah koordinasi akhir, sekitar dua minggu yang lalu dengan pihak Dinas Sosial Provinsi Riau, bahwa tahun 2014 akan dibangun 26 bh RLH di sana. Insyaallah dalam waktu dekat akan diajukan ke panitia lelang provinsi Riau," kata Helfandi.
Ditambahkannya pula, pengajuan RLH ini sebenarnya sejak RT di Nerlang itu masih dalam naungan Desa Sungaitohor atau Desa Induk. Serta proses tersebut juga sudah dilewati mulai dari survey pada tahun 2013 yang lalu.
"Mudah-mudahan hal tesebut bisa terwujud untuk masyarakat kita yang benar-benar membutuhkan RLH itu," katanya lagi.
Selanjutnya masih menurut camat yang juga mantan Kasubbag Protokol Pemkab Meranti dan DPRD Meranti ini lagi, sesuai usulan musrenbang Kecamatan 3T yang lalu, untuk kegiatan 2015 ini, pemerintah kecamatan mengusulkan pembangunan infrasruktur lain seperti jalan lingkungan, sumur bor, listrik, pelabuhan dan juga fasilitas lainnya yang berhubungan dengan KAT di RT Nerlang.
"Tentunya hal ini perlu dukungan semua pihak dan dinas terkait agar berbagai fasilitas yang dibutuhkan masyarakat bisa terakomodir tahap demi tahap. Tidak menutup kemungkinan juga jika ada pihak lain yg merasa prihatin dengan kondisi ini, kami menghimbau untuk dapat ikut membantunya," ujar Helfandi.
Dapat dijelaskan, kehidupan di Nerlang sangat memprihatinkan. Ratusan masyarakat yang tidak punya agama itu hidup seadanya. Anak-anak mengenyam pendidikan hanya 2.5 jam setiap minggu, dan itupun hanya untuk mengenal huruf, menulis, membaca, dan berhitung.
Anak-anak belajar hanya pada hari minggu, ketika guru yang berasal dari kecamatan itu libur mengajar. Sementara untuk kehidupan sehari-hari, masyarakat yang pemukimannya berjarak sekitar 2KM dari pelabuhan itu hanya mengandalkan kerja-kerja berat.
Sedangkan untuk kepercayaan, mereka tidak memiliki agama alias atheisme. Menurut No, salah seorang pemuda di Nerlang, mereka biasanya mempercayai benda-benda yang dianggap ghaib. Seperti menyembang dan menyerahkan sesajen ke pohon besar yang dianggap memberikan kesembuhan melalui kepala suku yang bernama Alip.(zal)