SELATPANJANG, GORIAU.COM - Kepala Karantina Pertanian Wilayah Kerja Selatpanjang, drh Andry Pandu Latansa menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membeli daging beku yang berasal dari Malaysia. Karena ditegaskannya bahwa negara Malaysia masih belum bebas dari penyakit mulut dan kuku.


Sebagaimana disampaikan Andri, Kamis (12/6/2014) siang. Kata Andri, biasanya menjelang bulan puasa dan lebaran idul fitri, terjadi peningkatan permintaan daging, sementara suplai kebutuhan daging di selatpanjang cukup tinggi dan tidak mampu dupenuhi peternak sapi.
"Kebutuhan daging sementara ini masih belum terpenuhi jika mengandalkan peternak lokal. Sehingga harga daging akan melonjak sangat tinggi," ujarnya.
Kepala wilayah kerja Karantina Selatpanjang itu mengaku tidak bisa mempungkiri banyak pedagang tergiur untuk mengambil dan membeli daging dari malaysia yang konon harganya mencapai setengah dari harga dipasar. Namun hal tersebut sangat merugikan peternak.
"Harga sapi dan daging lokal kalah bersaing,juga merugikan masyarakt karena daging tersebut tidak melalui pemeriksaan laboraturium, yang diduga masih mengandung penyakit atau obat-obatan berbahaya," tegasnya.
Dikatakannya lagi,sementara ini untuk memenuhi kebutuhan selatpanjang, pedagang bisa mengambil daging dari batam yang mana daging sapi beku tersebut adalah berasal dari negara australia. Negara Australia tersebut sudah dinyatakan bebas terhadap penyakit mulut dan kuku, dan sudah melalui prosedur karantina. Hal ini sesuai dengan undang-undang nonomor 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan. Selain itu berdasarkan PP nomor 82 tentang karantina hewan, serta undang-undang nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan.
"Tapi pedagang tetap harus melengkapi adminstrasi kepabean kepada petugas bea dan cukai dikarenakan batam termasuk wilayah Free Trade Zone (FTZ)," imbuhnya.***