
SELATPANJANG – Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti yang didominasi oleh lahan gambut menjadi fokus perhatian utama pemerintah menjelang datangnya puncak musim kemarau 2026. Sinergi lintas instansi mulai dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, hingga pihak swasta terus diperkuat guna menghindari krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi geografis Meranti memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap api, terutama ketika siklus kekeringan akibat fenomena Super El Nino melanda wilayah tersebut pada pertengahan tahun ini. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Duhartian mengingatkan semua pihak agar tidak meremehkan ancaman kekeringan di atas lahan gambut.
"Kabupaten Kepulauan Meranti berada di kawasan perbatasan dan berbatasan langsung dengan sejumlah wilayah lain," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Duhartian usai menghadiri rapat koordinasi lintas sektoral, Jumat (29/5/2026).
Potensi meluasnya kabut asap akibat gambut yang terbakar tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat lokal, namun juga berisiko memicu persoalan polusi udara lintas daerah hingga lintas negara mengingat posisi strategis Kepulauan Meranti.
"Apabila terjadi kabut asap dampaknya akan sangat luas dan dapat menjadi perhatian publik maupun media sosial," tambahnya.
Pemerintah daerah bersama kepolisian terus menggencarkan patroli dan sosialisasi ke desa-desa yang memiliki riwayat titik api tinggi. Keterlibatan perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah Meranti juga terus didorong untuk memastikan tersedianya sarana dan prasarana pemadaman yang memadai di area konsesi masing-masing. ***