PEKANBARU- Seminggu setelah dilantiknya Arsyadjuliandi Rachman sebagai Gubernur Riau definitif oleh Presiden Joko Widodo, figur yang akan menggantikan posisinya untuk Wakil Gubernur Riau (Wagubri), mulai menarik diperbincangkan.

Sejumlah nama yang berasal dari internal Partai Golkar bermunculan dan memiliki peluang untuk mendampingi Andi Rachman memimpin Provinsi Riau, hingga tahun 2018 mendatang.

Adapun beberapa nama itu diantaranya, Syamsuar (Ketua DPD II Golkar Siak yang juga Bupati Siak), HM Harris (Ketua DPD II Golkar Pelalawan yang juga Bupati Pelalawan, Sukarmis (Ketua DPD II Golkar Kuansing yang juga Bupati Kuansing dua periode), Herman Abdullah (mantan Walikota Pekanbaru dua periode), Indra M Adnan (mantan Bupati Inhil dua periode), Yopi Arianto (Ketua DPD II Golkar Inhu yang juga Bupati Inhu), Suparman (Ketua DPD II Golkar Rohul, yang baru saja dilantik sebagai Bupati Rohul), dan Septina Prima Rusli (anggota DPRD Riau, istri mantan Ketua Golkar Riau yang juga mantan Gubernur Riau Rusli Zainal).

"Kalau untuk kursi Wagubri ini, tentu akan diisi kader Golkar, bisa dipastikan seperti itu. Figur yang memiliki kapabilitas, popularitas serta track record yang baik di masyarakat," kata Pengamat Politik Riau Aidil Haris menjawab GoRiau.com, Selasa (31/5/2016).

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau ini, Golkar merupakan partai politik yang dinamis, sehingga semua kader terbaik memiliki peluang untuk mengisi kursi Wagubri itu.

"Tapi ini kan politik, dari sekian banyak kader terbaik Golkar di Riau, tentu dipilih mereka yang bisa bekerjasama dengan Andi Rachman. Golkar itu dinamis, sulit ditebak," jelasnya.

Aidil tidak membantah kalau peran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Golkar sangat mempengaruhi figur yang nantinya ditetapkan sebagai Wagubri. Meskipun melalui mekanisme partai, namun finalnya tetap melalui restu petinggi partai di Jakarta.

"Itulah menariknya, dinamika politik di Golkar itu sulit ditebak, bisa saja hari ini nama yang muncul si A, besoknya si B, lalu yang dipilih si C. Di sini dibutuhkan lobi-lobi politik," ujar kandidat Doktor Komunikasi Islam UIN Sumatera Utara ini.

"Syamsuar, Harris dan Septina lebih berpeluang dibanding yang lainnya, track record-nya cukup bagus. Bisa juga muncul figur lain dari birokrat seperti Ahmad Syah Haroffie," tutupnya.(***)