SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - PT Bumi Siak Pusako (BSP) mencatatkan laba sebesar 28 juta dolar Amerika pada tahun 2012 atau melebihi target yang hanya USD 16 juta. Saat proyeksi target, kurs diprediksi Rp8.800 namun ternyata mencapai Rp9.760.

''Laba kita tahun ini, mencapai 28.303.521 atau lebih besar dari rencana sebesar 16 juta US Dolar. Kenaikan ini bukan karena penambahan sumur melainkan kurs,'' ujar Direktur Utama Bumi Siak Pusako Jusmadi Yusuf saat rapat dengan Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi dan jajaran Pemkab Siak di kediaman Bupati, Rabu (20/3/2013).

Jusmadi Yusuf juga menjelaskan produksi minyak yang dihasilkan sepanjang 2012 rata-rata 16.484 barel/hari dengan total produksi 6.033.357 barel/tahun. Sedangkan jumlah pendapatan migas berkisar 117.433.523 US Dolar dari rencana target 122 juta US Dolar.

Dengan rincian beban pokok pendapatan mencapai 89.130.002 US Dolar. Total beban ini masih dibawah rencana yang semula diperkirakan mencapai 105 US Dolar. Dengan demikian laba (unaudited) mencapai 28.303.521 atau lebih besar dari rencana sebesar USD 16 juta.

Sementara itu untuk pemaparan rencana kegiatan tahun 2013 akan dilakukan program optimasi terhadap 220 sumur, pemboran pengembangan 5 unit sumur dan pemboran eksplorasi sebanyak 2 sumur.

Menurut Jusmadi penambahan sumur yang akan dilakukan pengeboran tidak serta merta meningkatkan laju produksi akan tetapi diharapkan mampu menekan penurunan produksi. Sehingga total produksi 2013 diharapkan mencapai 6.079.440 barel/tahun.

Jumlah pendapatan keuangan sendiri diperkirakan mencapai USD 129 juta dengan total beban USD 109. Dengan demikian laba diperkirakan berkisar USD 20 juta US Dolar jika kurs rupiah berkisar Rp9.300.

Sementara itu penyaluran dana yang telah dilakukan BSP sepanjang 2012 mencapai Rp2 miliar lebih yang terwujud berupa bantuan sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain-lainl. Ditambah Rp4 miliar lebih untuk pembangunan venue sepatu roda PON XVIII 2012.

Beberapa kendala yang dihadapi adalah mengenai faktor lapangan sudah tua, fasilitas produksi, seperti pompa dan pipa yang sudah tua. Disamping terjadi gangguan suplay listrik dari Chevron dan gangguan jaringan, serta diberlakukannya UU 32 th 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sehingga Chevron membatasi jumlah air terproduksi. Termasuk lamanya kepengurusan pinjam pakai lahan kawasan hutan produksi. (sks)