JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan sementara untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Langkah diplomatik ini menandai babak baru dalam meredakan ketegangan global yang sempat mengacaukan jalur maritim dunia.

Dikutip dari Bloomberg, Senin (15/6/2026), para pejabat dari kedua negara dijadwalkan bertemu di Swiss, Jumat (19/6/2026) untuk secara resmi menandatangani perjanjian tersebut. Meski demikian, belum ada naskah resmi yang dirilis, mengindikasikan beberapa poin krusial baru akan dibahas pada perundingan lanjutan.

Janji Ulang Tahun Trump dan Pengumuman Global

Presiden AS Donald Trump, Sabtu (13/6/2026) sempat berjanji kesepakatan akan tercapai Minggu (14/6/2026), bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-80.

"Kesepakatan hebat ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh wilayah," ujar Trump melalui media sosialnya. Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka Jumat (19/6/2026) setelah penandatanganan dan penyingkiran ranjau laut selesai.

Pengumuman ini pertama kali disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang kemudian disusul oleh pernyataan Trump serta media pemerintah Iran. Di Teheran, media pemerintah justru menggambarkan situasi ini sebagai bentuk penyerahan diri dari Washington.

"Iran secara resmi memaksa musuh AS-Israel untuk mengakhiri perang di semua medan tempur," sebut laporan televisi pemerintah Iran. Naskah perjanjian sendiri baru akan dibuka untuk publik setelah prosesi tanda tangan selesai.

Dampak Pasar Ekonomi dan Tekanan Politik

Konflik ini sebelumnya sempat membuat ratusan kapal terjebak di kedua sisi selat. Begitu kabar perdamaian tersiar, harga minyak mentah jenis Brent langsung turun lebih dari 4 persen menuju US$83 per barel, menyentuh level terendahnya dalam waktu lebih dari tiga bulan. Bersamaan dengan itu, nilai transaksi saham berjangka di AS merangkak naik, sedangkan mata uang dolar AS melemah terhadap mata uang negara-negara maju (G10).

Analis utama untuk Asia Pasifik dan Timur Tengah di eToro Ltd, Josh Gilbert memberikan catatannya terkait situasi ini.

"Ini masih merupakan langkah awal yang penuh harapan, bukan sebuah kepastian. Kekhawatiran tidak akan sepenuhnya hilang sampai perjanjian resmi ditandatangani, artinya para pelaku investasi (investor) tetap harus berhati-hati," ungkap Josh Gilbert.

Kesepakatan ini diproyeksikan mampu meredam inflasi global dan ketakutan akan perang bersenjata. Di sisi domestik, kebijakan ini mengurangi tekanan politik bagi Trump menjelang pemilihan umum paruh waktu, November mendatang. Hasil jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika memang tidak menyukai perang tersebut. Namun, dalam wawancara bersama The New York Times, Minggu (14/6/2026), Trump tetap menegaskan siap meluncurkan kembali serangan militer jika kesepakatan program nuklir Iran tidak berjalan mulus.

Siasat Kendali Jalur Laut dan Sanksi

Ketegangan baru diprediksi tetap muncul karena kedua pihak langsung melempar pandangan berbeda menyangkut teknis di lapangan. Iran menyatakan bahwa lalu lintas kapal di selat strategis tersebut nantinya akan diatur oleh Iran dan Oman.

Dalam masa negosiasi selama 60 hari ke depan, Iran dipastikan mendesak penghapusan semua sanksi primer maupun sekunder, termasuk pembatalan ketetapan hukum internasional. Semua pelonggaran sanksi ini wajib mengantongi persetujuan dari Kongres AS yang berpotensi memicu protes kelompok garis keras anti-Iran di Amerika.

Mengenai insentif finansial, seorang pejabat tinggi AS membocorkan adanya skema imbalan ekonomi berkala setiap kali Iran memenuhi tuntutan AS. Perjanjian tersebut juga memuat poin bantuan dana rekonstruksi untuk membangun kembali wilayah Iran yang hancur akibat serangan bom AS dan Israel di ribuan lokasi.***