MAKAM Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah di komplek pemakaman Hindu Setra Agung Badung di Jalan Batukaru Denpasar Barat, Bali, dikeramatkan oleh umat Hindu dan sebagian umat Islam. Sehingga tidak mengherankan bila makam tersebut selalu ramai oleh peziarah.

Siapakah Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah? Dikutip dari detik.com, Juru Kunci Makam Keramat Agung Raden Ayu Siti Khotijah, Jro Mangku I Made Puger mengisahkan, Raden Ayu Siti Khotijah merupakan putri dari Raja Pemecutan Denpasar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.

Sang putri yang nama aslinya Gusti Ayu Made Rai itu sangat cantik. Kecantikannya tersohor di seantero Bali, sehingga banyak pangeran dari kerajaan lain yang ingin mempersuntingnya.

Singkat cerita, saat Gusti Ayu Made Rai beranjak remaja, musibah menimpanya. Gusti Ayu Made Rai mengidap penyakit kuning atau kini lebih dikenal dengan liver.

Bertahun-tahun Gusti Ayu Made Rai mengidap penyakit kuning. Meski sejumlah balian (dukun) sakti telah dipanggil untuk mengobati, namun penyakit yang dideritanya tak kunjung bisa disembuhkan.

Hingga akhirnya, sang ayah (Raja Pemecutan) mengadakan tapa semedi (menyatukan Sapda, bayu, dan idep) di merajan (tempat suci istana)

''Saat tapa semedi, ayah Gusti Ayu Made Rai (I Gusti Ngurah Gede Pemecutan) mendapat pawisik (bisikan dari Yang Maha Kuasa) agar beliau memerintahkan seluruh patih kerajaan untuk mempersiapkan pengumuman sayembara,'' kata Jro Mangku I Made Puger, juru kunci makam Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah

Pengumuman sayembara itu, imbuh Jro Mangku Puger tidak hanya dilakukan di Bali, melainkan juga terbuka bagi kerajaan lain di luar Bali.

Ada dua titah raja saat menggelar sayembara itu. Pertama, barang siapa yang dapat mengobati dan menyembuhkan penyakit putrinya, kalau dia perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja.

Kedua, kalau dia seorang laki-laki, jika memang jodohnya maka akan dinikahkan dengan putrinya.

''Sabda sayembara Raja Pemecutan didengar oleh ulama dari Yogyakarta. Ulama ini memiliki ilmu kebatinan tinggi dan memiliki anak didik kesayangan dari Bangkalan, Madura, bernama Pangeran Cakraningrat IV,'' terang Jro Mangku Puger.

Ulama dari Yogyakarta itu memanggil Pangeran Cakraningrat IV untuk datang ke Yogyakarta.

Setelah menghadap, sang ulama memerintahkan agar Pangeran Cakraningrat IV pergi ke tanah Bali untuk menemui Raja Pemecutan

Kemudian, atas perintah dari sang guru, Pangeran Cakraningrat IV akhirnya berangkat ke Bali dengan kawalan 40 orang prajurit.

Pangeran Cakraningrat IV ternyata berhasil menyembuhkan putri raja. Keduanya lalu menikah disaksikan seluruh keluarga besar Kerajaan Pemecutan beserta 40 orang pengawal pangeran.

Berselang beberapa hari setelah menikah, Pangeran Cakraningrat IV memutuskan kembali ke Bangkalan Madura dengan mengajak serta sang istri.

Sesampainya di Madura, kedua mempelai kembali menjalani upacara pernikahan secara Islam. Gusti Ayu Made Rai pun menjadi mualaf dan mengubah namanya menjadi Raden Ayu Siti Khotijah atau Raden Ayu Pemecutan.

Beberapa tahun setelah menetap di Madura, Raden Ayu memutuskan untuk pulang ke Bali untuk menjenguk orang tua dan keluarganya.

Atas izin sang suami, ia lantas berangkat dengan pengawalan 40 prajurit. Pangeran Cakraningrat IV tidak menemani Raden Ayu ke Bali. Ia hanya memberikan bekal sebuah guci dengan uang kepeng di dalamnya, keris, dan pusaka yang diselipkan di rambut.

Setibanya di Bali, Raden Ayu disambut baik oleh sanak keluarganya. Namun kesalahpahaman sang raja membuat hidup Raden Ayu berakhir tragis.

Ketika Raden Ayu menjalankan shalat dengan mukena putih di malam hari, patih kerajaan justru mengira Raden Ayu sedang melepaskan ilmu hitam (ngeleak).

Patih segera melaporkan hal itu kepada raja. Tanpa bertanya langsung kepada Raden Ayu, sang raja langsung memerintahkan patih untuk membunuh Raden Ayu.

Oleh patih kerajaan, Raden Ayu lantas diajak ke Setra Badung. Ikut serta bersama mereka, para pengawal dan dayang dayang yang diajak dari Bangkalan Madura, beserta pengiring dari istana.

Raden Ayu rupanya sudah menduga bahwa patih kerajaan mengajaknya ke Setra Badung untuk dibunuh. Ia lantas mempersilahkan patih untuk melakukan tugas yang diberikan ayahnya, karena ia menghormati sang ayah.

Raden Ayu sempat menjelaskan bahwa ia hanya melakukan shalat, menunaikan ibadah agamanya (Islam). Ia juga meminta kepada patih agar melemparkan tusuk konde miliknya ke arah dada kirinya.

Raden Ayu pun berpesan bila tubuhnya mengeluarkan asap berbau busuk, ia meminta patih untuk menanam jenazahnya sembarangan.

Sebaliknya, bila jenazahnya berbau harum, ia meminta dibuatkan tempat suci atau keramat.

Rupanya tubuh Raden Ayu mengeluarkan bau yang sangat harum seperti bau kemenyan madu, menyebabkan seluruh kawasan Setra Badung seluas 11 hektare itu wangi.

Setelah mendengar cerita patih kerajaan, sang raja pun menyesal telah mengeluarkan perintah yang emosional.

Raja lantas membuatkan tempat suci sebagai makam sang putri, serta memerintahkan kepala istana untuk menjaga makam tersebut hingga sekarang.***