PERTEMUANNYA dengan cucu sufi, penyair, dan cendekiawan terkenal Jalaludin Rumi membuat Craig Victor Fenter, pendeta di Amerika Serikat (AS), tertarik mempelajari Islam. Fenter akhirnya memutuskan bersyahadat (memeluk Islam) pada 2006. Berikut kisahnya.

Dikutip dari Republika.co.id yang melansir Anadolu Agency pada Jumat (24/9), Craig Victor Fenter lahir pada 1955 di negara bagian Carolina Utara, AS dan dibesarkan di Los Angeles. Craig Victor Fenter tumbuh besar dengan latar pendidikan agama yang kuat dan bersekolah di sekolah agama dan menjadi pendeta.

Selama satu dekade lamanya, Fenter telah mengajar kelas agama di universitas-universitas AS. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai merasakan kekosongan spiritual dalam dirinya.

Dia mencoba mencari penyebab kekosongan itu. Hingga pada 2004, ia bertemu dengan Esin Celebi Bayru, cucu perempuan Rumi generasi ke-22, dalam sebuah program di AS.

Setelah mengetahui tentang Rumi dan Islam, Fenter mulai tertarik. Ia kemudian mengunjungi Konya pada 2005 atas undangan Bayru untuk menghadiri peringatan wafatnya Rumi. Di sana, ia menyaksikan Seb-i Arus ''malam reuni'' ketika Rumi mencapai Tuhan yang diperingati dalam upacara.

Fenter sangat terkesan dengan kisah Rumi, tarian sufi yang dikenal dengan upacara Sema, dan suasana spiritual selama upacara. Fenter memutuskan masuk Islam pada 2006 dan mengganti namanya menjadi Ismail Fenter.

''Agama sangat penting bagi keluarga saya. Nenek ingin saya menjadi pendeta. Saya pergi ke seminari untuk belajar imamat,'' katanya kepada Anadolu.

Setiap Ahad, Fenter tidak pernah melewatkan pergi ke gereja. Fenter mengaku ada banyak hal yang tidak masuk akal baginya saat itu.

''Saya percaya pada Tuhan tetapi ada sesuatu yang tidak beres. Informasi yang saya coba ajarkan kepada murid-murid saya setelah itu tidak masuk akal bagi saya. Jadi saya menghabiskan sebagian besar hidup saya untuk mencari. Saya dulu mengajar di seminari, tetapi saya tidak percaya pada apa yang saya ajarkan,'' ujarnya.

Fenter kemudian memutuskan berhenti mengajar dan meninggalkan gereja untuk pulang ke Kalifornia dan bertemu keluarganya. Dia mulai mengisi hidupnya dengan mempelajari musik, namun kekosongan masih terus menggelayutinya.

''Ada banyak musik, tetapi hati saya kosong. Tepuk tangan orang-orang sangat bagus, tetapi ada sesuatu yang hilang,'' kata Fenter.

Lantas seseorang menyarankannya bertemu dengan Bayru, yang berada di San Francisco untuk sebuah program. Pertemuan itu terjadi, dan di hadapan Bayru, Fenter menceritakan kekosongan itu. 

''Saya mengatakan kepadanya: 'Saya merasa diri saya berada di dasar lautan.' Saya berkata: 'Saya tidak tahu di mana harta itu.' Dia berkata kepadaku: 'Kamu telah menemukan harta karun itu karena kamu mencarinya.' Kalimat ini sangat mengesankan saya. Kemudian, atas undangan Bayru, saya datang ke (provinsi tengah Turki) Konya pada Desember 2005 dan menyaksikan upacara Seb-i Arus,'' kata Fented.

Fenter juga mengatakan dia merasakan sesuatu yang ''istimewa'' saat menonton para darwis berputar. Fenter juga pergi ke Museum Mevlana ketika dia berada di Konya.

Selama di Konya, Fenter banyak mengambil pelajaran tentang Islam dan tasawuf dari Nadir Karnibuyuk, seorang guru sufi yang ditemuinya pada upacara tersebut.

''Saya berhenti dan memperhatikannya (Karnibuyuk) dan melihat sekeliling ketika dia sedang berdoa. Kemudian dia memanggil saya untuk berdoa (juga). Tidak tahu harus berbuat apa, saya berjalan menuju 'Niyaz penceresi' (jendela harapan),'' kata Fenter sambil menambahkan dia mulai berdoa.

''Kemudian sesuatu terjadi. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya tercengang. Saya merasa seperti hati saya terkoyak dan saya menangis. Saya merasa seperti Rumi memanggil saya. Saya menangis berjam-jam,'' ungkapnya.

Saat itu juga Fenter merasa tempat itu adalah tempat yang dia cari-cari selama ini. Tempat yang ia butuhkan.

''Jalan Rumi adalah jalan Nabi Muhammad, saya tahu ini adalah kebenaran, saya menjadi seorang Muslim tahun depan,'' tambahnya.

Dia kemudian mengunjungi Konya setiap tahun karena dia percaya ini adalah tempat yang tepat untuk belajar lebih banyak tentang Rumi. Mengikuti jalan Rumi berbeda dengan tinggal di AS, ia lantas memutuskan pindah ke Konya.

''Suatu malam, seorang darwis muda (pengikut Rumi) bertanya tentang keluarga saya dan saya berkata: 'Orang tua saya sudah meninggal.' Dia menatapku dan berkata: 'Kami adalah keluargamu.'''

''Itu adalah salah satu hal terpenting yang dikatakan seseorang kepada saya. Itu sebabnya saya terus datang ke Konya, dan kemudian menetap di sana,'' katanya.***