INDONESIA memperingati Hari Statistik Nasional setiap tanggal 26 September.

Tanggal 26 September ditetapkan sebagai Hari Statistik Nasional karena pada tanggal 26 September 1960 Pemerintah RI memberlakukan UU No. 7 Tahun 1960 tentang Statistik sebagai pengganti Statistiek Ordonantie 1934. Akhirnya Hari Statistik Nasional disetujui pemerintah Republik Indonesia dengan latar belakang lahirnya Undang-undang tersebut.

Hari Statistik Nasional menjadi penting diperingati bukan hanya dalam konteks lahirnya undang-undang tentang statistik tahun 1960 yang lalu, tetapi juga menjadi penting sebagai momentum tahunan untuk membangun kesadaran dan budaya statistik di tengah masyarakat.

Apa Urgensi Kesadaran Statistik Bagi Sebuah Bangsa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), statistik adalah angka-angka atau catatan yang dikumpulkan, dikelompokkan, dan ditabulasi sehingga didapatkan informasi berkaitan dengan masalah tertentu. SementaraStatistika adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana cara merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, lalu menginterpretasikan, dan akhirnya mempresentasikan data.

Definisi di atas menunjukkan bahwa statistik tidak sekedar ilmu yang meletakkan data sebagai data an sich, tetapi statistik adalah ilmu yang ''memperlakukan'' data secara ilmiah dan bertanggung jawab. Disebut ilmiah karena statistik menyediakan banyak penghitungan parameter yang dapat dihasilkan dari proses pengolahan data. Dan disebut bertanggung jawab karena statistik ''memperkenankan'' sebuah kesimpulan diambil setelah proses rangkaian pengujian statistik dilakukan terhadap data.

Di era kemajuan informasi seperti saat ini, terminologi ''data'' telah jauh berkembang dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu orang memersepsikan data sebagai kumpulan angka, jumlah dan atau bilangan, maka di era saat ini kumpulan informasi bisa menjadi ''data'', dan itulah yang secara statistik biasa disebut dengan data kualitatif.

Karenanya, statistik di era saat ini bermakna tidak hanya mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menyimpulkan data yang bersifat angka, tetapi secara lebih luas statistik bermakna sebagai proses mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menyimpulkan berbagai informasi yang datang dari berbagai sumber.

Dengan makna seperti itu, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa statistik adalah sebuah tradisi ilmiah yang penting dihadirkan dalam kehidupan individu maupun sosial.

Bahkan lebih dari sekedar tradisi ilmiah, statistik bahkan penting dihadirkan sebagai sebuah budaya dalam kehidupan. Karena dengan menjadikan statistik sebagai budaya dengan makna yang seperti itu, maka masyarakat akan terbiasa bersikap secara ilmiah dan bertanggung jawab, dimulai dari mengumpulkan, menelaah, mengolah, menganalisis, menguji hipotesa atau dugaan, sebelum sebuah kesimpulan ditetapkan atas data dan atau informasi yang berkembang.  

Budaya Statistik dan Masyarakat Madani

Nurcholis Madjid (Cak Nur) mendefinisikan civil society sebagai masyarakat madani yang berkarakter santun, beradab, dan teratur. A. Ubaedillah dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan (Civil Education) 2003, menjelaskan bahwa masyarakat madani merupakan sebuah sistem sosial yang tumbuh berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan stabilitas masyarakat.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu karakter utama masyarakat madani adalah berperadaban demi terwujudnya stabilitas dalam kehidupan bersama.

Nilai peradaban manusia dalam kehidupan bersama salah satunya diukur dari sejauh mana kematangan individu di masyarakat tersebut menyikapi berbagai dinamika yang muncul akibat interaksi sosial yang terjadi.

Di sisi lain, sebuah dinamika sosial seringkali muncul diawali dari sikap yang tidak proporsional terhadap berbagai informasi yang berkembang.

Ketika scope masyarakat semakin luas, maka potensi munculnya dinamika sosial yang diakibatkan sikap tidak proporsional dalam mengelola informasi juga akan semakin besar. Terlebih ketika varian kemajemukan struktur sosial nya semakin tinggi, maka potensi dinamika sosialnya juga akan semakin besar. 

Di sinilah pentingnya menghadirkan statistik sebagai sebuah budaya di tengah masyarakat. Bahwa dengan budaya statistik yang baik, maka tiap individu di dalam masyarakat tidak akan dengan mudah men-judge sebuah data dan atau informasi yang berkembang, sebelum dirinya melakukan tahapan-tahapan statistik secara ilmiah dan bertanggung jawab.

Itulah, mengapa ada sebuah kaidah yang menyebutkan: ''jika kamu tidak melakukan pengecekan (baca: proses statistik) terhadap informasi yang datang kepadamu, maka tunggulah akan datangnya kehancuran dalam kehidupanmu''.

Sebuah bangsa membutuhkan rangkaian momentum-momentum kecil secara rutin untuk menjadi besar, dan Hari Statistik Nasional (HSN) adalah sebuah momentum kecil bagi Bangsa Indonesia untuk berkembang menjadi bangsa besar yang berperadaban. Semoga.***

Muji Basuki adalah Statistisi di BPS Provinsi Riau.