
KENDARI -- Sejak kecil Marsia Andra mengikuti agama yang dianut ayahnya, yakni Katolik. Namum, setelah SMA, dia memutuskan memeluk agama yang dianut ibunya, yaitu Islam. Berikut kisahnya.
Dikutip dari telisik.id, Marsia dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga berbeda agama. Ayahnya beragama Katolik, sedangkan ibunya seorang Muslimah.
Hingga SMP, Marsia Andra tidak merasakan ada masah dengan perbedaan agama dalam keluarganya. Namun, setelah SMP, banyak temannya bertanya, bagaimana rasanya hidup di tengah ayah dan ibu yang berbeda keyakinan.
Pertanyaan dari teman-temannya itu kemudian menimbulkan perasaan aneh serta kebingungan dalam diri Marsia, sehingga dia pun mulai memikirkannya.
''Saat teman-teman selalu menanyakan hal yang sama pada saya, saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang aneh dengan kehidupan saya?'' kata Marsia, Kamis (4/11/2021).
Namun saat itu, Marsia masih mengabaikan pertanyaan teman-temannya tersebut.
Saat duduk di bangku SMA, barulah dia mengetahui, bahwa pernikahan beda agama itu tidak diperbolehkan dalam Islam.
''Dan akhirnya sayapun paham dengan maksud teman-teman saya kala itu,'' sambungnya.
Kala itu, Marsia berusaha untuk semakin mendalami dan mempelajari agama yang dianutnya, yakni Katolik, untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang dipercayainya sekarang adalah hal yang sudah tepat baginya.
''Untuk memperkuat keyakinan saya terhadap apa yang saya yakini, sayapun berkomitmen untuk semakin rajin dan aktif di gereja. Tapi entah mengapa saya kok merasa kosong dan hampa. Saya merasa seolah tidak memiliki sebuah tujuan hidup,'' ungkapnya.
''Saya berdoa tapi tidak merasa damai, saya meyakini tapi tidak yakin. Disitulah kemudian saya memutuskan untuk berdoa dengan menyebut nama Allah SWT dan mempelajari Islam melalui ceramah serta Alquran. Dan dengan kuasa Allah akhirnya sayapun merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Saya menemukan kedamaian dalam jiwa saya,'' lanjut gadis yang kini berusia 21 tahun itu.
Setelah menemukan apa yang telah membuatnya merasa damai, Marsia kemudian menyampaikan niatnya untuk memeluk Islam kepada kedua orang tuanya.
Niatnya sontak diterima dengan penuh suka cita oleh sang ibu, namun tidak oleh sang ayah.
''Ibu tentu senang saat saya bilang ingin menjadi mualaf tapi berbeda dengan bapak yang saat itu tidak setuju. Walau begitu, saya tidak menyerah begitu saja dan tetap gigih dengan apa yang telah saya pilih. Hingga seiring berjalannya waktu, bapak pun akhirnya luluh dan mau menerima keputusan saya,'' ujarnya.
Di akhir ceritanya, Marsia kemudian menyampaikan harapannya bahwa ke depannya ia berharap agar di saat shalat ataupun merayakan hari raya Idul Fitri nanti, sang ayah sudah bergabung dengan Marsia dan anggota keluarganya yang lain.***