
PEKANBARU - Perekonomian Provinsi Riau kembali menunjukkan tren positif sekaligus mempertegas posisinya sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Berdasarkan data terbaru, Riau berhasil menyumbang 5,25 persen terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026, menjadikannya provinsi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar keenam secara nasional atau terbesar kedua di luar Pulau Jawa.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi menyampaikan bahwa nilai PDRB Riau pada triwulan tersebut mencapai angka yang signifikan, yakni Rp340,34 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp154,55 triliun atas dasar harga konstan 2010.
"Secara spasial, pada triwulan II 2026 Provinsi Riau berkontribusi sebesar 5,25 persen terhadap perekonomian nasional. Riau juga menjadi provinsi dengan PDRB terbesar keenam di Indonesia atau terbesar kedua di luar Pulau Jawa," papar Asep saat merilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Provinsi Riau, Rabu (5/8/2026).
Di tingkat regional, Riau mengukuhkan diri sebagai tulang punggung ekonomi Sumatra. Kontribusi PDRB Riau terhadap perekonomian pulau tersebut menyentuh angka 23,33 persen. Angka ini bersaing ketat dengan Sumatra Utara yang menempati posisi puncak dengan 23,37 persen, sedangkan Bengkulu berada di posisi buncit dengan kontribusi 2,15 persen.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan II 2026 mencapai 4,75 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara bila disandingkan dengan triwulan sebelumnya, pergerakan ekonomi Riau naik sebesar 1,38 persen.
Sektor Nonmigas Catat Tren Pertumbuhan Positif
Pergerakan ekonomi Riau tidak lagi sekadar bergantung pada sektor minyak dan gas bumi (migas). Asep menguraikan, jika dihitung tanpa sektor migas, pertumbuhan ekonomi daerah ini menyentuh angka 5,70 persen secara tahunan. Capaian ini melampaui kinerja nonmigas pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya berada di level 5,06 persen.
"Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di luar sektor migas terus menguat dan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah," terangnya.
Apabila dibedah dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi secara tahunan paling banyak ditopang oleh sektor jasa perusahaan yang melesat hingga 15,80 persen. Posisi ini disusul oleh sektor jasa lainnya sebesar 13,42 persen dan jasa pendidikan di angka 11,71 persen. Sektor penyangga utama seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,31 persen, bersanding dengan industri pengolahan yang naik 4,59 persen.
Struktur ekonomi Riau hingga pertengahan tahun ini memang masih didominasi oleh industri pengolahan dengan porsi 27,88 persen dan sektor pertanian sebesar 26,87 persen. Keduanya bersama sektor pertambangan, perdagangan, dan konstruksi menjadi motor utama yang menggerakkan lebih dari 93 persen roda perekonomian wilayah ini.
Sementara dari sisi pengeluaran, perputaran ekonomi ditopang oleh lonjakan konsumsi pemerintah yang naik 13,08 persen serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 10,30 persen.
"Secara kumulatif sepanjang semester I 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,82 persen dibandingkan semester I 2025. Pertumbuhan tertinggi berasal dari lapangan usaha jasa lainnya sebesar 13,64 persen, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum serta jasa perusahaan," pungkas Asep. ***