
SECARA kebetulan terbaca sebuah status di Facebook. Menceritakan seorang anak darah bernama Syafrida Mulyana, 12 tahun, yang sedang terbaring lesu di RSUD Selatpanjang, Kepulauan Meranti.
Warga Desa Telaga Baru, Kecamatan Rangsang Barat, itu sedang membutuhkan darah O+ sebanyak 10 kantong. Keluarganya sudah sibuk mencari ke sana-sini, tapi darah belum berhasil juga ditemukan.
Sementara kondisi remaja tanggung itu sudah semakin parah. Darah sangat dibutuhkan demi memperjuangkan hidupnya. Takdir akhirnya mengakhiri hidup Syafrida. Ia meninggal dunia saat masih membutuhkan banyak darah.
Nasib yang sama dialami Cinta Dwila Oktavia. Dara muda usia 14 tahun itu terbaring di rumahsakit dalam kondisi kekurangan darah juga. Warga Desa Sungai Tengah, Kecamatan Merbau ini butuh tujuh kantong darah golongan A+.
Keluarganya sudah pontang-panting mencari darah, tapi belum ketemu juga. Selang beberapa saat kemudian Cinta pun pergi menyusul Syafrida.
Menyedihkan memang. Hanya dalam tempo beberapa saat Meranti telah kehilangan dua remaja generasi penerus. Mereka meninggal dunia karena tak kunjung mendapat Pasokam darah.
Kita tidak bisa menyalahkan Palang Merah Indonesia (PMI) yang berfungsi sebagai bank darah di setiap daerah. Organisasi nonpemerintah ini tidak bisa membuat darah. Sifatnya hanya bertugas mengumpulkan darah masyarakat untuk kemudian didistribusikan kepada pasien yang butuh darah.
Namun, PMI seharusnya lebih proaktif lagi. Jangan hanya bersifat menunggu. Lembaga sosial ini sebaiknya kerap mendatangi kantor-kantor pemerintah/swasta, TNI, polisi, kampus, organisasi massa untuk menawarkan pendonoran darah.
Di Jakarta tempohari, setiap calon pembuat SIM diwajibkan mendonorkan darah. Dengan cara begini, PMI pun menjadi memiliki stok darah setiap saat.
PMI dan para dokter juga harus tetap melalukan kampanye darah untuk menarik minat masyarakat. Selain itu perlu juga dijelaskan bahwa mendonor darah itu akan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Sebab sel darah akan terus terbarukan.
Sebagian kantor PMI mensyaratkan jadwal pengambilan darah sekali tiga bulan. Ada juga yang dua kali sebulan.
Memang tak semua orang bisa mendonorkan darah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Seperti berat badan di atas 50 kilogram, HB di atas 12, tidak sedang minum obat tertentu, dan tidur harus cukup.
PMI memang harus terus berkampanye bahwa darah sangat penting bagi kehidupan manusia. Tanpa stok darah yang cukup dapat mendatangkan korban. Seperti dialami Syafrida dan Cinta. Siapa tahu tiba-tiba kita sendiri atau keluarga atau teman, yang mengalami kekurangan darah.
Jika stok darah di PMI ada, mungkin diri bisa terselamatkan. Karena itu mari kita galakkan ajakan mendonor darah. ***
* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.