SELATPANJANG, GORIAU.COM - "Dah masuk musem ujan ni. Paling tak Januari besuk bau panas betol," ujar salah seorang warga Desa Mekong yang merupakan petani karet, dengan logat melayu nya, ketika berbincang-bincang dengan GoRiau.com, Sabtu (29/11/2014) malam.
Waktu itu, hujan mengguyur sebagian daerah Kabupaten Kepulauan Meranti. Hujan yang dikenal dengan sebutan 'hujan letei' bagi warga Mekong ini dipastikan telah men-stop pendapatan petani karet untuk sementara.
Bagaimana tidak, kita ketahui bersama bahwa petani karet sangat menggantungkan aktivitasnya pada keadaan alam. Mereka hanya bisa bekerja jika musim panas. Sedangkan musim hujan, petani karet tidak akan bekerja, sebab susu (getah, red) hasil torehan di batang karet akan merembes kemana-mana, dan ini membuat hasil kerjanya akan sia-sia. Dan hujan menjadi kesialan tiba-tiba bagi petani karet.
Di Desa Mekong misalnya. Sebagian besar warga Desa Mekong merupakan petani karet. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, remaja, hingga orang tua.
Desa Mekong merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Tebingtinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti Riau.
Di Desa Mekong saat ini masuk musim penghujan. Ini pasti akan menambah derita bagi petani karet. Bagaimana tidak, di Desa Mekong harga karet hanya Rp5000,- untuk satu kilogram.
Kalau 1kg, belum pasti mendapatkan Rp5000,-, sebab akan ada yang namanya 'basi' (pengurangan oleh pembeli, red). Untuk 1kg biasanya ada pengurangan berat 1.5ons hingga 3 ons.
Selain itu, kebanyakan petani karet di Desa Mekong tidak memiliki kebun sendiri. Mereka biasanya menggarap kebun orang lain dengan cara bagi 3. Misal, dalam 15kg bersih, maka si pekerja hanya dapat 10kg. Artinya dalam 15kg karet, petani hanya dibayar Rp50 ribu.
Harga murah tidak menjadi halangan bagi mereka. Yang pasti, bisa bekerja saja sudah lebih dari cukup bagi petani karet di Desa Mekong.
Tapi yang jadi masalahnya, ketika musim penghujan tiba. Mereka yang menggantungkan hidupnya dari menggarap kebun karet harus ekstra sabar, sebab dipastikan mereka tidak akan bisa menghasilkan uang sama sekali.
Kondisi seperti ini terus dan terus terus saja terjadi. Semoga ada solusi dari Pemda untuk petani karet di Kepulauan Meranti.
(zal)