PEKANBARU - Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) secara umum memang sangat bermanfaat dan membantu masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Akan tetapi, sistem tersebut masih memiliki keterbatasan dalam hal pembiayaan sarana dan prasarana tertentu. Ini tentunya menjadi keluhan yang perlu diperbaiki.

"Kami akhir-akhir ini banyak meminta peningkatan teknologi tinggi. Kadang nggak terpenuhi, yang disediakan oleh JKN kurang memadai," ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Provinsi Riau, dr Zul Asdi Sp.B dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) tahun 2017 di Hotel Pangeran Pekanbaru, Jumat (13/10/2017).

Sehingga, keluh Zul Asdi, dokter-dokter ahli saraf di Provinsi Riau tidak dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien. Hal inilah yang mengetuk hati seorang dokter yang tentunya menginginkan pasien yang berobat padanya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dengan fasilitas dan pengobatan yang memadai.

"Jadinya sulit secara tuntas untuk mengobati pasien. Belum lagi soal obat-obatan tertentu dan ICU yang membutuhkan biaya tinggi. Tidak terpenuhi keseluruhannya oleh JKN. Ini masih menjadi kendala kita," urainya.

Sedangkan mengenai kompetensi keahlian dokter, Zul meyakinkan, bahwa masing-masing dokter yang ada di Riau terus meningkatkan kemampuannya. Salah satunya dengan memberikan pelayanan yang prima.

"Kompetensi tetap ditingkatkan dan sudah menjadi tuntutan," tuturnya.

Untuk diketahui, Riau tahun ini menjadi tuan rumah pelaksanaan PIN Perdossi 2017. Salah satu pertimbangannya, dikarenakan Riau memiliki banyak rumah sakit yang bertaraf internasional dan selalu mengikuti perkembangan teknologi medis.

Turut hadir dalam kesempatan ini, diantaranya Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi Rachman, Direktur Utama RSUD Arifin Achmad Nuzelly Khusnedi, Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir dan Ketua Perdossi Pusat Prof Dr dr M Hasan Machfoed SpS (k). ***