JAKARTA - Militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan Timur Tengah agar tidak memfasilitasi operasi militer Amerika Serikat (AS). Peringatan ini muncul di tengah mencuatnya rencana serangan udara gabungan Washington dan Israel terhadap infrastruktur energi Teheran.

Kepala Komando Pusat Militer Iran, Ali Abdollahi menuduh AS sengaja meningkatkan eskalasi konflik di kawasan tersebut. Pihaknya menyatakan tidak akan segan menindak negara mana pun yang memberikan fasilitas atau perlindungan bagi pasukan AS.

"Negara mana pun yang menjadi tameng pertahanan bagi Amerika yang kriminal dan agresif akan dilalap kobaran api perang," tegas Abdollahi melalui siaran televisi pemerintah seperti dilaporkan AFP, Sabtu (1/8/2026).

Potensi Serangan Gabungan

Ketegangan militer kedua negara kembali meningkat setelah penangguhan serangan yang sempat disepakati sebelumnya berakhir singkat. Media AS, termasuk CBS News dan WSJ melaporkan adanya persiapan pengeboman intensif oleh AS bersama Israel yang menyasar pembangkit listrik dan kilang minyak milik Iran.

Operasi militer ini diperkirakan dapat berlangsung pada akhir pekan ini. Kendati demikian, laporan tersebut menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump belum memberikan persetujuan akhir, meski koordinasi intensif dengan Israel terus berjalan. Jika terealisasi, ini akan menjadi serangan pertama Israel sejak gencatan senjata diberlakukan pada April lalu.

Respons Amerika Serikat

Di sisi lain, Donald Trump kembali menegaskan niatnya untuk memenangkan pertempuran yang bermula dari operasi gabungan AS dan Israel pada akhir Februari tersebut.

"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," ancam Trump menanggapi situasi terkini di kawasan tersebut.***