JAKARTA - Dua kapal tanker raksasa milik Pertamina masih terjebak di kawasan Teluk Persia akibat belum meredanya ketegangan militer di Timur Tengah. Keberadaan ranjau laut yang belum sepenuhnya dibersihkan membuat rute strategis Selat Hormuz menjadi zona merah yang menghambat laju pelayaran komersial internasional.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, membenarkan bahwa seluruh armada komersial wajib mematuhi aturan keamanan ketat sebelum melintasi perairan tersebut. Situasi kawasan yang belum sepenuhnya stabil memaksa setiap negara bernegosiasi langsung dengan otoritas setempat demi keselamatan operasional.

"Pada masa perang, ada beberapa protokol yang harus dilalui terkait kapal-kapal yang hendak melewati Selat Hormuz, di antaranya adalah negosiasi dengan pihak keamanan Republik Islam Iran," kata Mohammad Boroujerdi dilansir dari Antara, Sabtu (11/4/2026).

Ancaman keselamatan pelayaran di kawasan tersebut merupakan kondisi nyata di lapangan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya telah memetakan jalur maritim alternatif, Kamis (9/4/2026), menjelang perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan. Sayangnya, proses penyisiran ranjau laut yang dipasang saat eskalasi militer belum tuntas hingga Jumat (10/4/2026), sehingga jalur pelayaran utama belum dapat dibuka sepenuhnya.

"Mengingat Teluk Persia dan Selat Hormuz saat ini tidak dalam kondisi yang biasa-biasa saja," tegasnya memperingatkan status keamanan wilayah tersebut.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus berupaya melobi Teheran agar armada penyuplai energi nasional tersebut bisa segera keluar dari zona rawan. Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, mengklaim negosiasi menunjukkan sinyal positif dari pihak Pemerintah Iran yang menjamin pelintasan aman bagi kapal milik Indonesia.

"Intinya kami mengupayakan agar kapal Pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz," ujar Vahd Nabyl dalam konferensi pers di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).

Meski proses diplomatik diklaim berjalan lancar, pantauan dari situs pelacak Vessel Finder hingga Sabtu sore memperlihatkan realitas di perairan. Kapal Pertamina Pride terpantau masih bersandar di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi. Di lokasi terpisah, kapal Gamsunoro juga masih tertahan di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.***