JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah militer Amerika Serikat bersikeras mempertahankan blokade maritim secara penuh terhadap pelabuhan dan pesisir Iran. Tindakan ini memicu ancaman balasan dari Teheran yang bersiap menutup kembali jalur vital Selat Hormuz.

Pemerintah Iran sebelumnya telah membuka perlintasan Selat Hormuz seiring berlakunya gencatan senjata di kawasan tersebut, Jumat (17/4/2026). Namun, Presiden AS, Donald Trump, menegaskan pengepungan maritim tidak akan dicabut hingga kesepakatan komprehensif antara Washington dan Teheran benar-benar tercapai.

Sikap keras ini dipertegas oleh otoritas militer di lapangan. Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, menyatakan pasukannya memiliki kapasitas penuh untuk mengamankan kebijakan tersebut tanpa batas waktu.

"Kami mengawasi setiap kapal Iran di setiap pelabuhan, titik," tegas Cooper melansir laporan Al Arabiya, Sabtu (18/4/2026).

Sejak operasi penutupan akses ini diterapkan Senin lalu, tercatat 19 kapal mencoba menembus batas blokade. Seluruh armada tersebut akhirnya memutar haluan dan kembali ke pelabuhan asal usai menerima peringatan keras dari armada laut Paman Sam.

"Tidak ada kapal yang telah atau akan menghindari pasukan AS," paparnya.

Militer Amerika juga memastikan radar mereka terus memantau ketat pergerakan sejumlah kapal yang memancing kecurigaan, baik yang berada di dalam maupun di luar garis batas pengepungan.

"Kami mengawasi setiap kapal tersebut," tambahnya.

Tindakan blokade ini memantik kemarahan para petinggi di Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan ultimatum penutupan jalur perdagangan internasional jika Washington enggan menarik mundur armada perangnya.

"Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ghalibaf melalui unggahan di platform X mengutip AFP.

Ia mengisyaratkan bahwa setiap pelayaran di perairan tersebut wajib mengantongi izin resmi dari Iran. Selat Hormuz selama ini menjadi urat nadi perniagaan global karena menjadi rute perlintasan bagi seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.***