
JAKARTA - Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan tren penguatan di bursa perdagangan internasional, Rabu (12/8/2026). Pergerakan positif ini ditopang oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan rantai pasokan dari kawasan Timur Tengah, menyusul belum menemui titik terangnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Lonjakan Harga Brent dan WTI
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah berjangka jenis Brent mengalami kenaikan sebesar 72 sen atau 0,81 persen, bertengger di level 89,63 Dolar AS per barel. Searah dengan Brent, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS juga menguat 71 sen atau 0,85 persen menjadi 83,91 Dolar AS per barel.
Posisi harga ini merupakan kelanjutan dari tren penutupan perdagangan sebelumnya. Harga Brent dan WTI tercatat sudah naik lebih dari 1 Dolar AS sehari sebelumnya, sekaligus menandai level penutupan tertinggi sejak 31 Juli lalu.
Risiko Blokade Jalur Pelayaran
Sentimen pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian keamanan distribusi minyak lintas benua. Rentetan insiden yang menyasar kapal kargo di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb memunculkan proyeksi bahwa durasi gangguan pasokan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Pejabat keamanan tertinggi Iran, Mohsen Rezaei menyampaikan sikap tegas negaranya terkait penutupan akses perairan tersebut. Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS belum menerima sejumlah persyaratan Iran untuk mengakhiri perang, tegasnya.
Dampak blokade ini terlihat jelas dari data lalu lintas maritim. Sebelum meletusnya konflik, jalur perdagangan minyak global ini biasa dilewati 125 hingga 140 kapal setiap hari. Namun, catatan pelayaran terbaru menunjukkan angka tersebut anjlok menjadi hanya enam kapal di awal pekan ini, berada di bawah rata-rata 11 kapal per hari dalam sepuluh hari terakhir.
Penyeimbang dari Stok Amerika Serikat
Di tengah sentimen kenaikan harga, pasar mendapat tekanan penyeimbang dari indikasi penumpukan persediaan minyak mentah di AS. Laporan American Petroleum Institute (API) mengungkap adanya lonjakan stok minyak mentah AS sekitar 9,1 juta barel untuk pekan yang berakhir hingga 7 Agustus.
Angka penambahan ini jauh melampaui ekspektasi pasar. Apabila data resmi dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengonfirmasi volume yang sama, peningkatan cadangan ini diyakini mampu meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap minimnya ketersediaan minyak global.
Meskipun demikian, EIA tetap memproyeksikan bahwa defisit pasokan minyak mentah dari wilayah Timur Tengah di kisaran 600.000 barel per hari dapat terus berlangsung hingga penghujung tahun 2027.***