PEKANBARU – Riau kembali menjadi juara investasi di Pulau Sumatera, dengan realisasi investasi yang meningkat dari tahun ke tahun. "Fakta itu terlihat dari tahun ke tahun, dimana investasi banyak masuk ke Riau. Bahkan Riau menjadi provinsi dengan realisasi investasi nomor lima tertinggi di Indonesia. Nomor satu di Pulau Sumatera," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, S.Si, MM, melalui siaran pers Diskominfotik Riau, Minggu (16/4/2023).

Dalam data yang dirilis BPS Provinsi Riau, realisasi investasi Riau mencapai angka yang cukup mengesankan sejak 2019 hingga 2022. Berikut informasi terkait target dan capaian realisasi investasi di Provinsi Riau sejak 2019 s/d 2022:

2019: Target Rp 24 Triliun, Realisasi Rp 41,8 Triliun (174,17% capaian)
2020: Target Rp 40,8 Triliun, Realisasi Rp 49,6 Triliun (121,64% capaian)
2021: Target Rp 49,1 Triliun, Realisasi Rp 53,1 Triliun (108,15% capaian)
2022: Target Rp 60,4 Triliun, Realisasi Rp 82,5 Triliun (135,8% capaian)
Tak hanya itu, investasi yang masuk ke Riau juga berhasil menyerap tenaga kerja Indonesia dalam jumlah yang signifikan. Berikut jumlah tenaga kerja yang terserap akibat investasi:

2019: 61.338 orang
2020: 123.126 orang
2021: 61.195 orang
2022: 50.888 orang

Menurut Asep, kemajuan ekonomi suatu daerah tidak bisa terlepas dari investasi dan industrialisasi. "Kalau kita tidak pro investasi dan industrialisasi. Kita tak akan maju. Semua nanti akan tergantung kepada pemerintah," ujarnya.

Asep juga menegaskan bahwa informasi terkait realisasi investasi di Riau bisa diakses secara terbuka melalui website BPS. "Semua kan terbuka saja. Kalau mau melihat angka-angka yang lebih rinci, buka saja website BPS. Semuanya ada. Bagaimana membohongi," ucap Asep.

Ia menilai pandangan pengamat kebijakan publik, Dr M Rawa El Amadi, yang melihat ekonomi Riau dari dua sisi, yaitu ekonomi yang berbasis industri besar seperti minyak, sawit, dan bubur kertas, serta ekonomi masyarakat yang umumnya masih dominan berbasis konsumsi, sebagai perbandingan yang tidak fair. Asep menyarankan untuk membandingkan antar waktu dan skala usaha agar perbandingan lebih adil.

Asep menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu daerah perlu dilihat dari kualalitasnya, seperti tenaga kerja dan ekspor. "Ini bisa dilihat misalnya, tenaga kerjanya bagaimana, ekspornya seperti apa," lanjut Asep.

Jika investasi banyak masuk dan mampu menyerap banyak tenaga kerja, hal ini tentu akan sangat berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran. Dalam konteks Riau, investasi yang masuk ke sektor-sektor unggulan seperti minyak, sawit, dan bubur kertas telah memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.

Ekspor Riau juga termasuk yang tertinggi di Indonesia, menunjukkan bahwa hasil investasi yang masuk ke provinsi ini mampu menghasilkan produk yang kompetitif di pasar global. Hal ini tentu menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi berkualitas yang diharapkan Asep. ***