
BENCANA banjir yang melanda sebagian wilayah Sumatera semestinya tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam. Bencana ini adalah sebuah cermin retak dari kondisi manusia yang lupa jati dirinya sebagai khalifah. Jika ditelusuri hulu batinnya, kita akan menemukan tiga rangkaian yang saling terkait: Kerasukan, Kerakusan, dan Kerusakan.
Pertama adalah *kerasukan*, kondisi ketika manusia dikuasai nafsu dan setan. Pada tahap ini belum tampak kerusakan fisik, tetapi kerusakan spiritual mulai mengakar. Hati tidak lagi mengukur baik dan buruk berdasarkan wahyu, melainkan berdasarkan keuntungan dan kepuasan pribadi. Allah mengingatkan:
_“... Setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruknya... ”_(QS. An-Naml: 24).
Memang di antara strategi setan ialah memperelok maksiat sehingga pelakunya melihatnya sebagai kebaikan. Maka muncullah masyarakat yang merasa biasa saja ketika menyingkirkan nilai moral demi ambisi dunia. Pada titik ini dapat kita katakan manusia sedang kerasukan. Bukan kesurupan jin, tetapi lebih parah: kerasukan orientasi dunia yang menyesatkan.
Kerasukan itu kemudian melahirkan *kerakusan*: hasrat memperoleh lebih dari sekadar cukup.
Keinginan awal untuk sekadar "memperoleh manfaat" menjelma menjadi ambisi “memiliki”, lalu berubah menjadi nafsu “menguasai.” Segala sesuatu dipandang sebagai objek eksploitasi: hutan dibabat, sungai disempitkan, kawasan gambut dikeringkan, dan ruang hidup makhluk lain dihapus demi perhitungan ekonomi jangka pendek.
Allah menegur manusia: _“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”_(QS. Al-Fajr: 20).
Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai “cinta harta yang melampaui batas sehingga tak menimbang lagi halal dan haram, bahkan tidak puas setelah tertunaikan seluruh hajat dan kepentingannya” Maka kerakusan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi penyakit moral yang mengikis kesadaran bahwa sumber daya alam adalah amanah.
Ketika kerasukan dan kerakusan dibiarkan menjadi budaya sosial, sejarah selalu berakhir dengan *kerusakan*. Bukan hanya kerusakan moral, tetapi kerusakan ekologis yang nyata. Allah telah menerangkan hukum sebab-akibat itu:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”(QS. Ar-Rūm: 41).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: barangsiapa yang mendurhakai Allah di bumi, maka ia telah merusak bumi, karena kesejahteraan bumi dan langit bergantung pada ketaatan. Kerusakan yang terjadi adalah akibat perbuatan manusia, maka sebagian hal itu dikembalikan kepada mereka agar menjadi pelajaran. Artinya, bencana bukan sekadar musibah tetapi peringatan untuk memperbaiki cara hidup. Karena banjir tidak hanya datang sebab hujan, tetapi karena kita menghilangkan penjaga-penjaga alam yang Allah ciptakan: pepohonan, rawa, sungai, hutan, akar, dan tanah.
Jadi jelas: bencana bukan berhuli di langit, tetapi dituai dari rusaknya hati manusia. Ketika hati kerasukan nafsu, lahirlah kerakusan yang merusak bumi, dan akhirnya bumi yang dirusak meronta dalam bentuk bencana. Maka solusi sejatinya bukan hanya membangun tanggul dan kanal, tetapi membangun kembali kesadaran spiritual dan moral. Allah mengingatkan lagi: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”(QS. Al-A‘rāf: 56).
At-Tabari menjelaskan bahwa kata “faṣād” di sini mencakup segala bentuk perbuatan menyimoang, meliputi penyimpangan teologis (syirik) hingga maksiat yang menimbulkan mudarat pada makhluk, termasuk merusak keseimbangan alam.
Dengan demikian, banjir di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat pada penghujung 2025 ini bukan hanya peristiwa geologis dan metereologis, tetapi panggilan peringatan agar manusia kembali kepada amanah sebagai khalifah.
Bumi bukan milik kita untuk dieksploitasi semaunya; bumi adalah titipan Allah untuk dipelihara, dimakmurkan dan diwariskan untuk generasi berikutnya. Mentalitas kita mesti berubah, jangan selalu bertanya "berapa yang diambil dari bumi”, tetapi tanyakan juga lah “berapa yang harus diberi dan dijaga darinya.” ***