SELATPANJANG, GORIAU.COM - Terhadap keputusan 6 orang dewan juri yang datang dari berbagai pihak seperti mustika ratu, juara 1 putri wisata Indonesia dari lampung, dari Jakarta, dan Riau itu menyisakan penyesalan dari banyak pihak. Pasalnya dengan memenangkan bujang dari Pekanbaru, dewan juri dinilai tidak objektif.



Sebagaiman disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kepulauan Meranti, Drs Ishak Izrai. Kata Ishak, hal itu terkesan ketidakrelaan tuan rumah untuk memberikan Kepulauan Meranti menjadi juara.

"Kalau saya melihat dari wawasan, ya perwakilan Meranti lebih baik, dan besar kemungkinan jadi juara," kata Ishak.

Ishak juga mengungkapkan kekesalannya pada dewan juri sebab penilaian seperti itu sangatlah tidak objektif. Katanya pula, jika dinobatkan sebagai bujang Intelijensia itu menandakan bahwa Dedi Safrizal mempunyai wawasan yang sangat luas. Ditambahkan lagi Dedi fasih berbahasa Inggris dan ini tidak dimiliki oleh finalis lainnya.

"Besar harapan kita dengan juri dari pusat akan memberikan penilaian maksimal, rupanya tidak. Kita sama-sama bisa melihat finalis lain mana ada berberbasa Inggris. Apa mungkin dia (bujang Pekanbaru, red) bisa memperkenalkan Riau ke luar negeri kalau tidak menguasai bahasa Inggris," tambahnya dengan nada kesal yang saat itu mengatakan kalau Kadis Pariwisata Bengkalis Edwar juga menyayangkan keputusan dewan juri.

Kekesalan itu tidak hanya dari Kepulauan Meranti, pendukung Dedi dan masyarakat yang menonton malam itu juga tidak menyangka bujang Pekanbaru yang tidak pernah menggunakan basa Inggris bisa keluar sebagai pemenang utama. Menurut pendukung Dedi, penilaian itu terkesan suatu pembodohan.

"Dewan jurinya aneh, masa yang dimenangkan mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris. Keputusan ini pasti membuat penonton menilai bahwa dewan juri itu bodoh. Ini sangat disayangkan," kata mereka hampir sama.

Wati (35) salah seorang penonton malam itu juga mengaku kaget dengan keputusan. Menurutnya dengan memenangkan bujang Pekanbaru, maka kegiatan itu terkesan sia-sia dan mubazir saja. Sebab, dengan menggelontorkan dana tidak sedikit, Riau tidak mendapatkan perwakilan untuk mempromosikan potensi wilayah dan wisata ke kancah internasional.

"Apa yang mau dibanggakan dari dia (bujang Pekanbaru, red), jangan-jangan dia tidak bisa berbahasa Inggris, karena tidak sekalipun dia berbahasa Inggris. Apa mungkin bisa mempromosikan Riau ke turis asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia sementara mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Keputusan ini sangat merugikan Riau. Harusnya dewan juri objektif, kalau begini terkesan ada interpensi. Kami kesal, namun apa mau dikatakan, keputusan dewan juri mutlak tidak bisa diganggu gugat," ujar Wati ketika berbincang-bincang dengan wartawan.

Sementara itu, Dedi Safrizal sendiri terkesan tidak mempermasalahkan dengan keputusan dewan juri. Ia mengaku senang dengan capaiannya malam itu, sebab menurutnya, Ia tidak menyangka akan mendapat penghargaan sebagai bujang intelijensia tahun 2014.

"Alhamdulillah, saya senang dengan capaian ini, mereka berhak mendapatkan hasil yang manis sebab mereka punya potensi yang sama," kata Dedi.

Sebelumnya, Koordinator dewan juri, Drs M Ery Sandy, mengatakan penilaian mereka kepada finalis itu tidak hanya pada malam grand final saja, melainkan sejak di Karantina pertama kali dikarantina tanggal 15 Juni 2014 kemarin.

"Ada banyak hal yang kita nilai dari mereka, baik kelengkapan, maupun aturan yang kita buat seperti apa mereka menjalani. Semuanya kita lihat dan kita dengar, dalam sehari-harinya seperti apa dia berbicara, berdiri, dan duduk semuanya kita nilai. Jadi bukan hanya malam ini saja," kata Ery.(zal)