
PEKANBARU, GORIAU.COM - Kepala daerah menjadi ujung tombak atau berada paling depan dalam memerangi gerakan radikal di daerah. Diantara gerakan radikal yang belum lama ini masuk ke Indonesia adalah bahaya ideologi Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).
Demikian disampaikan Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose, MM pada Seminar Nasional bertema Sinergitas Polisional dalam Upaya Pencegahan Paham Radikalisme untuk Menangkal dan Menanggulangi Bahaya Ideologis ISIS di Provinsi Riau, Selasa (26/08/2014). "TNI, Polri harus bersinergi memerangi gerakan radikalisme di Indonesia. Dan yang menjadi ujung tombak dalam upaya ini adalah kepala daerah. Itu instruksi yang disampaikan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum lama ini," kata Petrus.Menurut Petrus, gerakan radikalisme bisa tumbuh subur di Indonesia karena aturan perundang-undangan negara kita lemah. Oleh sebab itu, seluruh masyarakat perlu mewaspadai gerakan-gerakan yang bertentangan dengan empat pilar yang menjadi pedoman bangsa Indonesia.
"Ideologi kita adalah ideologi Pancasila. Bila ada gerakan yang ingin merubahnya atau menggunakan ideologi yang bertentangan, maka perlu diwaspadai," jelasnya.
Pada seminar nasional yang digelar di Hotel Aryaduta Pekanbaru ini, juga dibacakan pernyataan sikap menentang keberadaan ISIS yang dilakukan oleh utusansejumlah organisasi masa Islam yang ada di Riau. (wdu)