PEKANBARU - Indonesia termasuk negara yang rawan terjadinya bencana alam, termasuk gempa bumi. Banyak kerugian yang ditimbulkan lantaran bangunan rusak parah akibat dihantam gempa. Lalu bagaimana upaya dalam meminimalisir dampak dari bencana yang datang secara tiba-tiba itu?

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, Sabtu (4/6/2016) mengatakan, banyak rumah dan bangunan yang rusak disebabkan oleh belum diterapkannya konstruksi bangunan tahan gempa.

Banyak rumah yang rusak karena tidak memiliki struktur kaku seperti beton bertulang yang jika dibuat dengan baik, dapat meredam getaran gempa. Kolom-kolom dan balok pengikat yang kuat dan ditopang oleh pondasi yang baik, akan dapat mengurangi kerusakan akibat gempa.

Masalahnya, belum banyak rumah tahan gempa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masih tingginya tingkat kerentanan masyarakat menghadapi gempa. Building code untuk bangunan rumah atau lainnya juga masih sangat lemah penerapannya.

Selain itu, peta bahaya gempa bahkan peta risiko bencana gempa bumi juga belum banyak dijadikan dasar pada saat pembangunan rumah. Kondisi ini yang menyebabkan banyaknya kerusakan bangunan akibat gempa. Masih banyak masyarakat yang tidak paham bagaimana membangun rumah tahan gempa. 

Begitu pula dengan pekerja (tukang) yang masih memiliki pengetahuan terbatas tentang rumah tahan gempa. Selain itu, juga alasan ekonomi menjadi dasar mengapa masyarakat enggan membangun rumah tahan gempa yang biayanya relatif lebih mahal dibandingkan dengan rumah biasa.

Sudah cukup banyak pedoman atau panduan membangun rumah tahan gempa yang dapat dijadikan rujukan. Apalagi ancaman gempa berdasarkan penelitian para ahli menunjukkan adanya peningkatan. ***