
JAKARTA -- Pemakaian masker ternyata tak hanya bisa melindungi diri dari penularan virus corona. Namun, juga bisa mencegah keparahan akibat Covid-19.
Dikutip dari suara.com yang melansir The Health Site, peneliti melihat kelembapan yang tercipta di dalam masker saat dipakai ternyata dapat membantu memerangi keparahan penyakit pernapasan, termasuk akibat Covid-19.
Studi baru oleh para peneliti di National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) NIH, menemukan bahwa masker wajah dapat secara signifikan meningkatkan kelembapan di udara yang dihirup oleh pemakai masker.
Peningkatan tingkat kelembapan ini di udara yang dihirup dapat membantu menjelaskan mengapa memakai masker telah dikaitkan dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih rendah pada orang yang terinfeksi virus corona Covid-19.
Diterbitkan dalam The Biophysical Journal, peneliti mengatakan bahwa faktanya, hidrasi saluran pernapasan diketahui bermanfaat bagi sistem kekebalan. Tingkat kelembapan yang tinggi juga diketahui secara signifikan mengurangi keparahan flu. Oleh karena itu, ini juga dapat diterapkan pada tingkat keparahan infeksi Covid-19 melalui mekanisme serupa, karena alasan berikut:
1. Tingkat kelembapan yang tinggi dapat membatasi penyebaran virus ke paru-paru dengan mendorong pembersihan mukosiliar (MCC), mekanisme pertahanan yang menghilangkan lendir dan partikel berbahaya serta patogen yang ada di dalam lendir dari paru-paru.
2. Tingkat kelembapan yang tinggi juga dapat meningkatkan sistem kekebalan dengan memproduksi protein khusus, yang disebut interferon, yang melawan virus, suatu proses yang dikenal sebagai respons interferon.
3. Tingkat kelembapan yang rendah telah terbukti merusak, baik MCC maupun respons interferon, yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa orang lebih mungkin terkena infeksi pernapasan dalam cuaca dingin.
Studi ini menguji empat jenis masker, yaitu masker N95, masker bedah sekali pakai tiga lapis, masker katun poliester dua lapis, dan masker katun tebal.
Para peneliti mengukur tingkat kelembapan dengan meminta sukarelawan bernapas ke dalam kotak baja tertutup. Jika orang tersebut tidak mengenakan masker, uap air dari napas yang dihembuskan memenuhi kotak, menyebabkan peningkatan kelembapan yang cepat di dalam kotak.
Saat relawan mengenakan masker, penumpukan kelembapan di dalam kotak sangat berkurang. Hal ini terjadi karena sebagian besar uap air yang tersisa di dalam masker menjadi mengembun, kemudian dihirup kembali. Untuk memastikan tidak ada kebocoran, masker dipasang dengan erat pada wajah sukarelawan menggunakan karet busa dengan kepadatan tinggi.
Pengukuran dilakukan pada tiga suhu udara yang berbeda, berkisar antara 46 hingga 98 derajat Fahrenheit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat masker meningkatkan kelembapan udara yang dihirup, tetapi dengan derajat yang bervariasi.
Pada suhu yang lebih rendah, efek pelembab semua masker meningkat drastis. Namun pada semua suhu, masker katun tebal menyebabkan tingkat kelembapan yang paling.***