
BENGKALIS - Tim gabungan yang terdiri dari 37 personel lintas instansi terus berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Senin (24/8/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, para petugas harus menembus kepulan asap pekat demi mencegah meluasnya kobaran api di kawasan hijau tersebut.
Perjuangan di lapangan mulai membuahkan hasil pada sore harinya. Tim gabungan berhasil memutus pergerakan kepala api yang sempat menjadi ancaman utama. Dari perkiraan total luasan lahan terdampak yang mencapai 1,5 hektare, tim sukses mengamankan dan memadamkan area seluas 0,9 hektare.
Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar menyebutkan bahwa pemadaman ini melibatkan kekuatan yang solid dari berbagai unsur. "Sinergi ini melibatkan 8 personel Polri, 8 anggota MPA Tanjung Leban, 7 anggota Manggala Agni, 4 personel BPBD, 4 prajurit TNI, 3 anggota Regdam Bandar Laksamana, serta 3 tim medis dari Puskesmas Tenggayun," rincinya.
Kehadiran tim medis dari puskesmas setempat menjadi elemen penting dalam operasi ini. Mereka disiagakan khusus untuk memantau ketahanan fisik para petugas pemadam yang harus bertaruh dengan cuaca terik serta kepungan asap sisa pembakaran di lokasi kejadian.
Tantangan Pasokan Air Mengering
Meski kobaran utama telah dijinakkan, status bahaya belum sepenuhnya dicabut. Saat ini, fokus seluruh personel dialihkan pada proses pendinginan secara menyeluruh di area bekas terbakar untuk mencari sisa-sisa potensi api.
"Langkah ini sangat krusial untuk mematikan bara api tersembunyi di bawah permukaan tanah gambut agar tidak kembali membara menjadi titik api baru," terang Fahrian.
Dalam tahap pendinginan ini, regu pemadam dihadapkan pada kendala baru berupa menipisnya pasokan air. Sejumlah embung penampungan di sekitar lokasi dilaporkan mulai mengering. Menyikapi situasi tersebut, tim harus berupaya menghemat penggunaan air yang tersisa sekaligus menyisir sumber air alternatif lain di sekitar titik kejadian.
Guna mencegah lidah api kembali menyala, area terdampak kini dibagi menjadi beberapa zona pemantauan yang ketat. "Tim gabungan memecah formasi untuk melakukan pendinginan serentak, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk memetakan serta merencanakan revitalisasi embung air demi pencegahan jangka panjang," tutupnya. ***