BANDAR LAMPUNG – Dugaan pungutan liar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek, Lampung, berlanjut ke jalur hukum. Kedua orang tua bayi berusia dua bulan bernama Alesia Laila Putri (ALP), yang meninggal usai menjalani operasi, resmi melaporkan seorang dokter spesialis, Billy Rosan, ke Polda Lampung.

Laporan yang diajukan Senin (25/8/2025) itu memuat dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Kuasa hukum keluarga korban, Supriyanto, menyebut langkah ini ditempuh demi memperjuangkan hak orang tua pasien.

“Setelah mempelajari fakta hukum, kami melaporkan dugaan penipuan dan penggelapan. Karena berstatus ASN, kami juga melihat ada potensi tindak pidana korupsi,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).

Dalam laporan tersebut, keluarga menyerahkan sejumlah bukti, di antaranya percakapan yang berisi bujukan agar orang tua pasien membeli alat medis yang sebenarnya sudah dijamin BPJS. Selain itu, ada bukti transfer Rp8 juta ke rekening pribadi atas nama dokter Billy.

“Faktanya, alat medis itu ternyata sudah ditanggung BPJS. Tetapi keluarga korban tetap diminta membayar,” tambah Supriyanto.

Pasangan Sandi Saputra (27) dan Nida Usofie (23), orang tua Alesia, menceritakan bahwa uang tersebut awalnya disebut untuk memesan alat medis yang butuh waktu sepuluh hari. Namun, keesokan harinya alat itu sudah tersedia.

Ironisnya, kondisi bayi mereka justru memburuk setelah operasi hingga meninggal dunia pada 19 Agustus 2025. Selain dugaan pungli, keluarga juga menyoroti pelayanan RSUDAM yang dinilai tidak sesuai standar.

Meski tercatat sebagai peserta BPJS kelas II, Alesia ditempatkan di ruang kelas III dengan alasan sistem perawatan tanpa kelas. “Perawat terkesan tidak tanggap. Saat kondisi anak kami menurun, kami mencari perawat, tetapi jawabannya sibuk melayani pasien lain,” tutur Sandi.

Soal dugaan malapraktik, keluarga masih menunggu hasil penyelidikan aparat. “Saat ini fokus kami pada laporan pidana dugaan pungli, penipuan, dan penggelapan. Pengembangan selanjutnya kami serahkan kepada penyidik,” jelas Supriyanto.

Sandi berharap laporan ini bisa menjadi pelajaran berharga agar kasus serupa tidak dialami pasien lain. “Kami kecewa dengan pelayanan rumah sakit dan sikap dokter. Semoga ini tidak terulang lagi,” ujarnya. ***