Bitcoin kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah sejumlah indikator on-chain menunjukkan sinyal yang kerap muncul menjelang perubahan tren harga. Di saat investor ritel mulai mengalami kapitulasi, pasar derivatif justru mencatat lonjakan penggunaan leverage.

Di tengah kondisi tersebut, banyak investor memanfaatkan aplikasi crypto untuk memantau data pasar secara real-time, mulai dari pergerakan harga hingga indikator on-chain yang dapat membantu menyusun strategi investasi.

Selain Bitcoin, sebagian pelaku pasar juga terus mengikuti perkembangan harga coin siren dan berbagai aset crypto lainnya sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Meski demikian, pergerakan Bitcoin masih menjadi acuan utama karena aset crypto terbesar di dunia ini sering menentukan sentimen pasar secara keseluruhan.

Analis on-chain CryptoQuant yang dikenal dengan nama GugaOnChain menilai kondisi pasar saat ini mulai menunjukkan karakteristik yang menarik. Berdasarkan analisis terbarunya, investor ritel mulai memasuki fase kapitulasi, sementara aktivitas di pasar derivatif justru meningkat melalui penggunaan leverage yang lebih tinggi.

Indikator MVRV-STH Menggambarkan Kerugian Investor Jangka Pendek

GugaOnChain menyoroti indikator MVRV-STH yang berada di level 0,816 ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$60.133. MVRV-STH merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur keuntungan atau kerugian yang belum direalisasikan oleh pemegang Bitcoin jangka pendek atau short-term holders (STH).

Nilai di bawah angka 1 menunjukkan bahwa sebagian besar investor jangka pendek masih berada dalam posisi rugi. Dengan angka 0,816, rata-rata investor jangka pendek diperkirakan masih mengalami kerugian sekitar 19 persen dari harga beli mereka.

Kondisi tersebut dinilai cukup penting karena dalam beberapa siklus sebelumnya, level serupa sering muncul ketika pasar mulai mendekati titik terendah.

Menurut GugaOnChain, penurunan indikator MVRV-STH hingga berada di bawah level 0,85 biasanya bertepatan dengan meningkatnya tekanan psikologis di kalangan investor ritel. Banyak investor akhirnya memilih menjual aset mereka untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Fenomena tersebut dikenal sebagai kapitulasi, yaitu fase ketika pelaku pasar kehilangan keyakinan terhadap prospek harga dalam jangka pendek. Meskipun terlihat negatif, kapitulasi justru sering dianggap sebagai bagian alami dari proses pembentukan dasar harga.

SOPR-STH Perkuat Indikasi Kapitulasi

Pandangan tersebut diperkuat oleh indikator lain, yaitu SOPR-STH yang tercatat berada di level 0,99. SOPR atau Spent Output Profit Ratio digunakan untuk mengetahui apakah Bitcoin yang dipindahkan ke pasar dijual dalam kondisi untung atau rugi.

Ketika nilainya berada di bawah angka 1, kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor benar-benar menjual aset dengan harga lebih rendah dibandingkan harga perolehannya.

Data ini mengindikasikan bahwa banyak pemegang Bitcoin jangka pendek mulai merealisasikan kerugian mereka. Tekanan jual seperti ini biasanya mencerminkan kepanikan di kalangan investor ritel yang tidak lagi bersedia menunggu potensi pemulihan harga.

Di sisi lain, perpindahan kepemilikan aset tersebut justru membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi. Tidak sedikit transaksi dilakukan melalui mekanisme over-the-counter (OTC), sehingga tidak seluruh aktivitas pembelian langsung terlihat di bursa crypto.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami redistribusi kepemilikan. Investor yang kehilangan keyakinan mulai keluar dari pasar, sementara pihak lain memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk menambah kepemilikan Bitcoin sebagai investasi jangka panjang.

Open Interest Naik, Leverage Pasar Mulai Meningkat

Di tengah sinyal kapitulasi dari investor ritel, pasar derivatif justru menunjukkan perkembangan yang berbeda. Data terbaru memperlihatkan bahwa Open Interest (OI) Bitcoin meningkat sekitar US$169,35 juta atau 0,83 persen dalam 24 jam terakhir.

Kenaikan ini mencerminkan bertambahnya jumlah kontrak derivatif yang masih aktif di pasar. Open Interest merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur aktivitas di pasar futures dan opsi.

Ketika nilainya meningkat, hal tersebut menandakan semakin banyak pelaku pasar membuka posisi baru menggunakan leverage. Dengan kata lain, minat untuk berspekulasi terhadap pergerakan harga Bitcoin mulai kembali meningkat.

Menurut GugaOnChain, kenaikan Open Interest tidak selalu berarti pasar akan bergerak naik. Sebaliknya, kondisi tersebut justru meningkatkan potensi volatilitas karena semakin banyak posisi leverage yang dapat terlikuidasi apabila harga bergerak tajam ke salah satu arah.

Level US$63.000 Menjadi Area Krusial

Pandangan tersebut sejalan dengan analisis dari Klondike yang menilai Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi setelah berhasil menyapu likuiditas di area bawah atau sweep lows.

Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan struktur pasar yang baru. Meski demikian, ia menegaskan bahwa sinyal bullish belum sepenuhnya terkonfirmasi karena Bitcoin masih bergerak di bawah level resistance yang sangat penting.

Klondike menyebut area US$63.000 sebagai batas utama yang harus ditembus agar peluang kenaikan semakin besar. Selama harga masih berada di bawah level tersebut, struktur pasar dinilai masih berada dalam fase transisi sehingga arah berikutnya belum dapat dipastikan.

Apabila Bitcoin mampu melakukan breakout dan bertahan di atas US$63.000, momentum beli diperkirakan akan meningkat. Harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$67.000 hingga US$70.000.

Sebaliknya, apabila Bitcoin kembali gagal menembus resistance tersebut, pasar kemungkinan akan kembali bergerak dalam fase konsolidasi sebelum menentukan arah baru. Oleh karena itu, banyak trader menjadikan level US$63.000 sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan transaksi.

Siklus Historis Mulai Memberikan Harapan

Sementara itu, analis lain yang menggunakan nama CryptoZ melihat kondisi saat ini dari perspektif siklus pasar jangka panjang. Ia menilai Bitcoin mulai memasuki fase yang pada beberapa siklus sebelumnya sering berdekatan dengan terbentuknya dasar bear market.

Berdasarkan perbandingan data historis, CryptoZ memperkirakan Bitcoin memiliki peluang untuk mencetak all-time high baru dalam waktu sekitar 800 hari apabila pola siklus sebelumnya kembali terulang.

Menurutnya, harga Bitcoin saat ini telah mengalami koreksi sekitar 50 persen dari puncak tertinggi sebelumnya. Walaupun masih ada kemungkinan penurunan tambahan sekitar 10 hingga 15 persen dalam jangka pendek, ia menilai rasio risiko dan potensi keuntungan mulai terlihat lebih menarik dibandingkan beberapa bulan lalu.

Atas dasar tersebut, CryptoZ mengaku tetap melakukan akumulasi Bitcoin secara agresif. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen portofolio spot miliknya kini dialokasikan ke Bitcoin, sementara posisi swing long yang dibuka pada kisaran US$59.400 hingga US$55.000 masih terus dipertahankan.

Investor Tetap Mencermati Risiko

Meskipun sejumlah indikator mulai menunjukkan sinyal yang identik dengan fase pembentukan dasar harga, analis mengingatkan bahwa pasar crypto masih dipenuhi ketidakpastian. Faktor makroekonomi global, kebijakan bank sentral, hingga arus dana institusional tetap menjadi penentu utama arah Bitcoin dalam beberapa bulan mendatang.

Karena itu, investor disarankan untuk tidak hanya berfokus pada peluang keuntungan, tetapi juga menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Menggabungkan analisis teknikal, indikator on-chain, serta perkembangan sentimen pasar dapat membantu menghasilkan keputusan investasi yang lebih objektif.

Pada akhirnya dengan berbagai analisa tersebut maka kamu harus mempertimbangakn resiko sebelum mengambil keputusan ketika melakukan trading. Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.