SAMARINDA, GORIAU.COM – Baru saja mau dibangkitkan kembali, napas Kaltim Air justru sudah hilang timbul. Pasalnya, tanpa bantuan perusahaan di Kaltim, maskapai ini tak akan bisa beroperasi alias tamat. Karena urusan investasi, semua diharapkan pada perusahaan. Tak tanggung-tanggung, investasi awal butuh USD 1 juta.

Sebenarnya, Pemprov sudah berusaha keras agar perusahaan merasa aman dan mau berinvestasi ke Kaltim Air. Salah satunya, dengan berjanji tak akan ikut campur dalam urusan manajemen. “Saya tak lanjutkan Kaltim Air kalau pengusaha tak campur tangan. Saya tak akan mencampuri manajemen dan lainnya,” ucap Faroek. “Saya tak mau jadi seperti Riau Air. Karena campur tangan gubernur, jadi bermasalah,” sambungnya. Maksud Gubernur, dia tak mau ada orang titipan di Kaltim Air. Karena ada kekhawatiran, bila Pemprov Kaltim bisa campur tangan dalam manajemen, peluang kolusi muncul. “Untuk Kaltim, kami tak mau seperti Riau Air,” kata dia. Faroek berharap partisipasi perusahaan dalam realisasi proyek tersebut. Hadirnya Kaltim Air, diyakini bakal mengembangkan ekonomi di Bumi Etam, terutama urusan transportasi di perbatasan. Bagi perusahaan dengan nilai investasi besar, Faroek menyiapkan tugu platinum dengan nama perusahaan tersebut. Tugu tersebut akan ditempatkan di bandara-bandara Kaltim. Namun demikian, respons perusahaan masih tanda tanya. Pertemuan di Lamin Etam Jumat (1/3/2013) lalu pun, yang seyogianya menjadi ajang pertemuan antara perusahaan dengan Pemprov Kaltim, justru “dicueki”. Banyak perusahaan tak memenuhi undangan. Dan lagi, mayoritas undangan juga tak dihadiri langsung pimpinan perusahaan. Hanya perwakilan, tanpa decision maker. Kepada masing-masing perusahaan, Gubernur Awang Faroek memberi formulir tentang wacana tersebut, beserta nilai investasi yang ditawarkan ke perusahaan. Pilihannya dari USD 1 juta hingga USD 5 juta. Pengusaha juga bisa berinvestasi di atas pilihan tadi. Sayang, karena yang hadir hanya perwakilan, tak satupun bisa memberikan kepastian. Formulir itu pun dibawa pulang tanpa kejelasan jawaban. Di lain pihak, Rektor Universitas Mulawarman Zamruddin Hasid mengapresiasi niat membangkitan kembali Kaltim Air. Namun demikian, transportasi udara sejatinya bersifat high cost. Jika tak disubsidi pemerintah, harganya jelas tak terjangkau bagi masyarakat. Sedangkan fasilitas ini sejatinya diperuntukan bagi daerah yang aksesnya kesulitan seperti di perbatasan. Pemprov, kata dia, mesti cermat dalam hitung-hitungan untung rugi kehadiran Kaltim Air ini. “Secara ekonomi cukup bagus. Terutama untuk mobilitas barang dan jasa. Tapi kembali lagi ke tarif,” sebut dia. Biaya operasional transportasi udara, tentu lebih mahal dibanding transportasi lain. Sulit dibayangkan, tarif penerbangan ini nantinya terjangkau masyarakat perbatasan. Apalagi bila dioperasikan swasta. Di sisi lain, Rektor Unmul sekaligus mengingatkan soal manajemen. Profesionalitas pihak ketiga, perlu dipertimbangkan matang. Tak sedikit perusahaan maskapai penerbangan di Tanah Air yang gulung tikar gara-gara manajemen buruk, berikut faktor lainnya, seperti politik dan kolusi. “Jadi harus hati-hati,” terangnya. Seperti diberitakan, setelah penerbangan perdana 17 Agustus 2011 silam, cerita Kaltim Air ternyata masih berlanjut. Tiga hari lalu, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak kembali memberi ‘angin surga’. Pemprov Kaltim akan menggandeng CSE Aviation, perusahaan konsultan internasional, yang bertugas mencari investor supaya Kaltim Air bisa terbang lagi. Ya, CSE dipercaya memiliki posisi unik dalam industri penerbangan untuk mengintegrasikan komunikasi antara para pemain dalam industry ini. Kamis (28/2/2013), CSE meyakinkan dapat menggaet investor. Mereka presentasi di Lamin Etam, Gubernuran, dan dihadiri pengusaha dari kalangan pertambangan, perkebunan, HTI, minyak dan gas bumi, hingga perbankan. Dalam paparannya, Chairman CSE Aviation, Chappy Hakim, bersama rekannya Edwin Soedarmo dan Samudra Sukardi menjelaskan, melalui Perusda Kaltim Melati Bhakti Satya (MBS), diperkirakan butuh dana awal sebesar 20 juta US Dollar (sekitar Rp 190 miliar) untuk memulai mendirikan maskapai penerbangan ini. Analisis ekonominya, KAL diprediksi memiliki Internal Rate of Return (IRR) 16,79 persen. “Investasi tersebut diperkirakan kembali dalam waktu empat tahun,” papar Edwin. Tidak hanya itu, Faroek telah mengirim surat ajakan berinvestasi ke KAL kepada sejumlah perusahaan besar di Kaltim. “Kami harap perusahaan segera membalas,” ucapnya. Dengan APBD Kaltim mencapai Rp 13 triliun, Faroek yakin Kaltim mampu membeli pesawat jenis ATR dengan kisaran Rp 260 miliar per unit. “Beli dua dengan APBD masa tidak sanggup,” kata dia. Faroek juga mencoba meyakini bahwa Kaltim Air yang digagas saat ini berbeda dengan yang dulu. “Ini beda. Kemarin menggandeng Penas, ternyata tidak sanggup. Kali ini gandeng maskapai yang memiliki AOC (Air Operator Certificate),” jelasnya. Maskapai penerbangan ini, diharap jadi jembatan menuju Kaltim sejahtera. Padahal, jika berkaca pada pengalaman lalu, sudah dua kali Pemprov Kaltim mempunyai catatan buruk tentang dunia penerbangan. Sebelumnya, Kaltim Air yang dirilis saat peringatan Hari Kemerdekaan, tahun 2011, pemerintah juga pernah membeli lima unit pesawat Airvan GA8 pada masa Pemprov Kaltim (masa Gubernur Kaltim Suwarna AF) senilai Rp 26,5 miliar dari PT Airvan Dirgantara Indonesia (ADI) pada 2003 silam. Satu unit pesawat dihargai Rp 5,3 miliar. Sayang, pesawat itu juga tak terbang sesuai rencana. (ktc)