
PEKANBARU - Arus investasi yang masuk ke Provinsi Riau sepanjang triwulan II tahun 2026 tidak sekadar menjadi deretan angka makro di atas kertas. Kucuran modal senilai Rp20,23 triliun tersebut terbukti memberikan imbas langsung pada ekonomi warga dengan membuka lapangan kerja bagi 10.944 orang.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau, Vera Angelika OK, ST, MT, membeberkan bahwa keterserapan tenaga kerja tersebut sangat didominasi oleh sumber daya lokal. Tercatat sebanyak 10.919 posisi diisi oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI), berbanding jauh dengan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang hanya berjumlah 25 orang.
"Dari jumlah tersebut, investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 10.009 pekerja, terdiri dari 9.997 TKI dan 12 TKA. Sementara investasi Penanaman Modal Asing (PMA) menyerap 935 tenaga kerja, terdiri dari 922 TKI dan 13 TKA," rinci Vera, Kamis (23/7/2026).
Jika membedah peta sebaran wilayahnya, Kota Pekanbaru tampil sebagai daerah dengan daya serap tenaga kerja tertinggi di Provinsi Riau. Sepanjang pertengahan tahun ini, investasi di wilayah ibu kota tersebut menyerap 2.652 tenaga kerja, yang terdiri dari 2.263 pekerja dari proyek PMDN dan 389 pekerja PMA, termasuk tujuh tenaga kerja asing di dalamnya.
Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Indragiri Hilir dengan total 1.923 pekerja. Angka di kawasan pesisir ini sepenuhnya digerakkan oleh penanam modal dalam negeri sebanyak 1.922 orang dan hanya satu pekerja dari aliran modal asing. Selanjutnya, Kabupaten Kampar membuntuti di urutan ketiga dengan 1.411 tenaga kerja, mencakup 1.370 pekerja PMDN dan 41 pekerja PMA yang dua di antaranya merupakan TKA.
Serapan tenaga kerja ini juga merata di berbagai daerah lain, seperti Kabupaten Bengkalis yang membuka ruang bagi 928 pekerja, disusul Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 763 pekerja. Menyusul berturut-turut di bawahnya adalah Pelalawan (749 orang), Kota Dumai (655 orang), Indragiri Hulu (625 orang), Rokan Hulu (566 orang), Siak (452 orang), Rokan Hilir (201 orang), hingga Kabupaten Kepulauan Meranti yang menyerap 19 tenaga kerja.
Melihat dari kacamata sektor usaha, aliran investasi ini ditopang oleh lima pilar utama. Sektor Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi menjadi motor penggerak paling masif dengan kontribusi Rp8 triliun atau menyumbang 39 persen dari total investasi daerah. Kucuran dana jumbo ini sekaligus mempekerjakan 903 orang yang terdiri dari 894 pekerja lokal dan 9 pekerja dari PMA.
Bergeser ke posisi kedua, sektor Kehutanan membawa dana segar sebesar Rp3,8 triliun (19 persen) dan membuktikan diri sebagai lini usaha padat karya. Sektor ini berhasil menyerap 1.764 tenaga kerja yang nyaris seluruhnya adalah warga lokal. Sementara itu, sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Peternakan memberikan andil 11 persen senilai Rp2,1 triliun lewat 484 proyek yang sanggup memperkerjakan 1.415 orang.
Sektor Listrik, Gas, dan Air turut memegang peranan dengan kucuran modal Rp1,6 triliun (8 persen) yang menyerap 401 pekerja. Di sisi lain, daya serap pekerja paling tinggi secara sektoral justru dibukukan oleh Industri Makanan. Dengan realisasi investasi sebesar Rp1,4 triliun atau sekira 7 persen, sektor ini sanggup membuka ruang rezeki bagi 3.104 orang, melingkupi 3.020 TKI dan 84 pekerja PMA.
Selain kelima penggerak utama tersebut, serapan tenaga kerja ikut mengalir di lini Perdagangan dan Reparasi (1.452 orang), Jasa Lainnya (838 orang), Hotel dan Restoran (391 orang), Konstruksi (183 orang), serta rupa-rupa sektor industri pendukung lainnya.
Beralih menilik asal negara pemodal, suntikan investasi ke Bumi Lancang Kuning masih dikuasai jiran dari kawasan Asia Tenggara. Singapura berdiri sebagai negara penanam modal terbesar dengan mendominasi 51 persen portofolio atau senilai Rp2,39 triliun (US$145,13 juta). Berjalan melalui 389 proyek, investasi ini menyerap 403 tenaga kerja lokal dan dua tenaga asing.
Malaysia mengekor di urutan kedua dengan kue porsi 40 persen atau sebesar Rp1,84 triliun (US$111,42 juta) lewat 186 proyek yang mempekerjakan 122 warga Indonesia dan tiga pekerja asing. Sisa arus modal luar negeri ditutup oleh Bermuda dengan 5 persen porsi sebesar Rp234,31 miliar (US$14,20 juta), Kepulauan Virgin Inggris sebesar 2 persen atau Rp109,50 miliar (US$6,64 juta), serta Jepang yang menaruh modal Rp31,49 miliar (US$1,91 juta) lewat 37 proyek yang memberdayakan 34 pekerja Indonesia.
Menyikapi geliat dunia usaha ini, Pemerintah Provinsi Riau melalui DPMPTSP berjanji untuk terus mengawal kemudahan administrasi bagi para pelaku bisnis. Vera memastikan penyederhanaan perizinan akan terus dilakukan agar laju pertumbuhan ekonomi daerah tidak terganggu.
"Pemerintah Provinsi Riau dalam upaya pengembangan hilirisasi melakukan identifikasi dan pendataan terhadap produk-produk hilir yang telah diproduksi oleh perusahaan PMA dan PMDN di Provinsi Riau. Hal ini dilakukan guna meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan. Diharapkan kiranya dapat menjadikan Riau sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan fokus kepada pengembangan industri hilir dan ekonomi hijau yang berkelanjutan," tandas Vera. ***