Selaku wilayah kepulauan, penyeberangan antar pulau dengan transportasi laut merupakan kebutuhan tetap masyarakat Kepulauan Meranti, Riau. Namun, terkadang kebutuhan warga itu pula yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan sepihak.

Berbagai bentuk alat transportasi laut yang digunakan. Baik berupa kapal pompong, kempang, maupun speedboat yang sudah modern bentuk dan ukurannya.

Penyeberangan itu setiap hari melayani masyarakat Kepulauan Meranti. Karena, sampai di usia ke-7, Kepulauan Meranti memang belum memiliki jembatan antar pulau, Tebingtinggi, Rangsang, dan Merbau.

Seperti di Pulau Tebingtinggi tepatnya di Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, Selatpanjang. Meski berhadapan langsung dengan Pulau Rangsang, kota sentral akivitas masyarakat Meranti itu belum memiliki jembatan antar pulau.

Untuk ke Selatpanjang, warga Pulau Rangsang biasanya menggunakan speedboat ataupun ferri yang naik dari pelabuhan Rangsang. Untuk penyeberangan rakyat, masyarakat biasanya menggunakan kempang dari pelabuhan Peranggas dan Lemang.

Begitu juga dengan Pulau Merbau ke Pulau Padang (Merbau, red), dan Pulau Merbau ke Mekong (Pulau Tebingtinggi bagian barat).

Penyeberangan paling dekat di Kepulauan Meranti adalah penyeberangan Mekong-Semukut. Tapi, penyeberangan ini pula merupakan penyeberangan yang paling mahal di Kepulauan Meranti.

Meski hanya dipisahkan selat yaitu Selat Rengit, tapi untuk menggunakan jasa penyeberangan warga harus mengeluarkan uang Rp10 ribu (satu sepeda motor 2 penumpang). Harga penyeberangan ini sangat mahal apabila dibandingkan dengan penyeberangan Selatpanjang - Lemang dan Selatpanjang Peranggas, padahal jarak tempuh sangat jauh.

Harga Rp10 ribu itu tidak selalunya bertahan. Di waktu-waktu tertentu, masyarakat harus menyediakan uang Rp25 ribu jika hendak ke Ibukota maupun ke Pulau Merbau. Sementara pendapatan warga tidaklah besar, terutama bagi mereka yang merupakan petani karet.

Di Bulan Desember misalnya, debit air laut meningkat. Ketika air pasang, sebagian jalan menuju Desa Mekong terendam air asin.

Selain sulit dilewati, air asin sangat berbahaya untuk besi-besi di kendaraan bermotor. Air asin membuat besi di sepeda motor akan cepat berkarat dan keropos.

Saat ini, beberapa warga Pulau Merbau yang ditemui GoRiau, Kamis (24/11/2015) mulai mengeluhkan tingginya ongkos menyeberang.

Mereka harus mengeluarkan uang Rp25 untuk dua kali jasa penyeberangan. Yaitu penyeberangan di Selat Rengit bayar Rp10 ribu, dan penyeberangan di jalan yang tergenang air Rp15 ribu.

"Jaraknya tidak jauh, walau mahal kami tak ada pilihan lain," kata beberapa warga yang rata-rata enggan namanya ditulis.

Sebelumnya, GoRiau pernah menyampaikan keluhan masyarakat ini ke Dinas PU Meranti. Dinas PU berjanji akan turun ke lokasi penyeberangan dan melakukan kajian sehingga di tahun-tahun mendatang jalan itu terbebas dari banjir air pasang.

Namun, hingga akhir tahun 2015, tidak terlihat Dinas PU turun kelokasi. Akibatnya, di waktu-waktu tertentu, ketika debit air laut meningkat, batin warga yang menyeberang selalu menjerit. ***