
SELATPANJANG - Mendekati lebaran, sebagian besar orang pasti merasa sangat gembira. Namun, ada beberapa diantaranya malah galau.
Hal itu terjadi pada pekerja swasta di Selatpanjang Kepulauan Meranti. Sebut saja mereka pekerja di beberapa swalayan dan toko-toko.
Di saat momen untuk berkumpul dengan keluarga setiap tahun itu, pekerja swalayan harus kembali bekerja. Sebab, beberapa toko atau swalayan hanya tutup pada saat hari H lebaran saja.
Hal itu juga diakui Aziz, salah seorang masyarakat Pesisir. Kata Aziz, ada saudaranya yang bekerja di beberapa swalayan pernah mengeluh. Dimana mereka perlu berkumpul bersama keluarga untuk beberapa hari, sementara harus kembali ke tempat bekerja, kalau tidak bisa jadi akan dipecat.
"Kita tahu lah kalau lebaran di kampung-kampung, momen berkumpul bersama keluarga itu paling ditunggu," kata Aziz.
Kalau memilih untuk berkumpul dan mengunjungi saudara saat lebaran pertama, kedua dan ketiga, tambah Aziz, bisa jadi pekerja swalayan dan toko-toko itu dipecat. Sebab, toko dan swalayan biasanya akan cepat beroperasi meski dalam momen lebaran.
"Ini yang harus dicarikan solusi, pekerja itu sangat takut sebenarnya hal ini terungkap. Namun, kita tidak bisa membiarkan begitu saja," ujar Aziz lagi.
Selain jam kerja yang harus diperhatikan, kata Aziz juga, masalah upah pun tidak kalah pentingnya. Karena masih banyak pelaku usaha di Selatpanjang yang memberikan upah murah kepada pegawainya.
Untuk itu, Aziz berharap apa yang menjadi keluhan pekerja swasta di Selatpanjang ataupun daerah lain di Meranti ini harus menjadi perhatian serius oleh DPRD dan Disosnakertrans. DPRD diharapkan bisa menggelar hearing dengan dinas terkait dan pelaku usaha, untuk mencarikan solusi agar pekerja bisa punya waktu lebih untuk berkumpul saat lebaran tanpa harus dipecat.
"Dewan harus tanggap, kalau menunggu laporan resmi tidak akan berani pekerja itu. Makanya, melalui keluhan seperti inilah harus segera hearing untuk mencarikan solusi," kata Aziz juga. ***